SAYANG, duduk di sini kubisikkan padamu kisah menjelang lelapmu nanti. Kisah tentang hujan saat gerimisnya yang merinai malu dan kala derainya yang menderas, membelah sunyi di malam yang mulai menua.
Setiap senja berlalu pucuk dedaun cemara senandungkan tanya kepada langit, kapan musim penghujan tiba. Lalu dengan senyum ia kabarkan kepada tanah dan batu jika hujan akan datang. Tahukah kau sayang, bumi dan isinya gembira kernanya, pun larut dalam gempita raya penyambutan musim penghujan serupa karnaval rindu dengan ribu kerlip cahaya kunang kunang.
Tetes pertama jatuh, malu malu menyentuh bumi, lembut membelai kerontang tanah berbatu membasuh leluka di wajahnya setelah lama digurat sepi. Resap hingga meretas di setiap helai pedih perih, mengusap duka dan menyelimuti sunyi dengan serpihan basah perasan kasih dari langit.
Lalu bumi terbuai, terbungkus syahdu. Hujan pun mulai menderas, seakan hendak menggurat desahnya di muka bumi. Tercipta jejak ceruk dan genang di atasnya begitu meriah sedemikian hingga senyum dan gelak tawa menderai sampai pagi datang menjemput matahari.
Lalu bumi terbuai, terbungkus syahdu. Hujan pun mulai menderas, seakan hendak menggurat desahnya di muka bumi. Tercipta jejak ceruk dan genang di atasnya begitu meriah sedemikian hingga senyum dan gelak tawa menderai sampai pagi datang menjemput matahari.
Tahukah kau sayang, kau serupa hujan yang membawa damai dan diam-diam meninggalkan genang, merendam rindu di pelataran hati.
@sabdabumi
No comments:
Post a Comment