Showing posts with label Soliloquy. Show all posts
Showing posts with label Soliloquy. Show all posts

December 10, 2011

Bertanya Kepada Maut


percik-percik hening memukau jejiwa. bau dupa. aroma melati dan kapur barus bergantian memenuhi ruang udara. dingin mengendap di lipatan rasa yang perlahan pasi. menelisik hingga ke sum-sum tulang darah yang bertahap jadi nanah.


inikah rindu itu? bayang malam pada jalan basah di ujung lorong yang menyempit. debar jantung semakin sayup. getir melipir remah asa yang tersisa. duh!


o diri yang hina. kepada maut kusampaikan salammu. "untuk selembar jiwa ini. masihkah engkau memberi tangguh?" tanyaku merepih lirih di nadi.


~ Nal

May 27, 2011

Gelapku Terlalu Pekat untuk Kau Terangi: Sudah! [Elegi Labirin Cinta]

Akulah cinta dalam setiap sebutan cinta yang merekah di dada para pencari cinta. Sedang kau tidak akan pernah sampai padaku meski bila menunggangi kendara cahaya sekalipun sebelum aku berkenan hadir di setiap tetes detak darah di nadimu. Aih, simpan dulu rasa yang kau sebut dengan namaku itu. Satukan di sudut sana, tempat rasa seperti hasratmu kini, teronggok dalam gelap malamku yang panjang. Akulah yang akan mengunjungimu.

Bahkan dua mata elang yang menukik tajam tak kuasa menembus cangkang gelap semayam rindu di hati. Pun lacur rindumu telah sampai di pangkuanku dengan kendara senyap saat manusia terlelap.

Tapi katamu, kau ingin menjadi lilin demi terang yang kau bawa. Ah.. Mari sini kuberi tahu. Kau hanya akan meleleh tak berbentuk dan tetap menjadi leleh sebelum kau sempat menyala di sekitarku. Begitu cepat tanpa kau sadari bara di sekujurku sanggup luluhkan dinding peraduanmu yang terbuat dari beton baja sekalipun.

Sudah, hentikan langkahmu sebelum terlambat. Menujuku terjal dan berliku. Tidak akan sanggup kau mendaki langit sembari membenam di dasar bumi yang kelam. Sudah, tanggalkan saja dongeng cinta yang kau pungut dari sederet roman lusuh di kubangan jalan itu. Gelapku terlalu pekat untuk kau terangi: Sudah!

2010 - 2011
Bait Rindu Lelaki Sepi
ZAIN AL AHMAD

Maka Sesat Kau dalam Labirinku [Elegi Labirin Cinta]

Malam ini utusanku akan datang menjemputmu dengan sembilan pasang kuda putih pilihan. Ikutilah ia hingga ke gerbang hening saat jingga mega bergelayutan manja di sudut barat langit senja. Peraduanmu pun menjadi savana rindu yang bertahtakan kilau lazuardi ungu laksana embun pagi yang bersinar dibelai mentari. Usah malu, kenakan saja kimono dan tiara putih itu lalu sematkan mahkota cinta di dada kirimu yang kini mulai bermerah muda.

Setibamu di sini, kusambut kau dengan dekap hangat sayap-sayapku. Pun tegas kubisikkan padamu: Selamat datang di bumi suci derita dan nestapa. Pedih dan perihnya akan membersihkan serta mengikis noda nafsu rendah kemanusiaan di sekujurmu. Lalu mengangkat jiwamu yang telah tersucikan itu hingga lebur dalam cahaya. Menjadi satu dengan semesta.

Dan ketahuilah sayang, mulai detik ini kusebut kau kekasih. Hidupmu tak akan pernah sama lagi. Musnah sudah jalan kembali. Terjebak kau dalam labirinku yang tidak memiliki pintu. Hanya ada satu jendela yang sesekali terbuka untuk melihat dunia luar. Kekasihku, tangis dan tawamu kini jadi milikku.

2010 - 2011
Bait Rindu Lelaki Sepi
ZAIN AL AHMAD

Apimu Tak Cukup Panas Lagi Untukku

siangku menjalang pada garang mata yang menatap nyalang. hei binal, hendak kemana lagi kau melangkah. ribu kata 'tlah tertatah. menjadi pepatah sunyi di lembah sepi. bermaksud buatku patah? ah, bahkan desahku tak lagi terusik. segala rayu menjadi abu. jadi debu. riuh suara-suara enggan kudengar, sebab jiwa telah memainkan lagunya sendiri. lalu untuk apa kau membawa rebana? ritme yang kau tabuh tak sanggup mengikuti liar tempo yang kupacu. ya. baiknya kau buang saja harap semu untuk mengikuti. menujuku terjal dan berliku. sudah. usah lagi kau nyalakan api. bara itu telah lama padam. sedang apimu tak cukup panas lagi untukku.

2011
Bait Rindu Lelaki Sepi
ZAIN AL AHMAD

Harusnya Puisi Tidak Sedingin Ini

Pukul dua dini hari, rembulan berangsur padam. Di luar angin berhenti sedang malam lembab dindingnya. Dari sebalik kaca buram petak dua kali tiga meter, aku menatap wajah pasi yang sayu parasnya. Tiada senyum di matanya. Mata itu, bisu.

"Matamu, mata puisi.." Begitu sapaku. Tapi harusnya puisi tidak sedingin ini. Barangkali rindu sudah beku. Mungkin percik api di sudut pedangnya telah menjelma salju.

Belum sempat aku menggengam tanganmu, kau berpaling. Sembunyi di sebalik gelap. Pupus tanpa bayang. Hilang. Sedang wajah pasi bermata bisu itu: aku.

Ah.. Harusnya puisi tidak sedingin ini.

2011
Bait Rindu Lelaki Sepi
ZAIN AL AHMAD

Maka Dengan Ini Aku Mencintaimu

Senja tadi seperti kemarin. Debur ombak berlomba mencipta buih menuju pantai. Kau rebah di dekapku sedang degup jantung di dada kiri berdetak ikuti irama. Ada gurat senyum awan di bibirmu. Tanpa kata. Cuma mata yang bicara. Pada temaram sorot pandang, jelas kutangkap binar cahaya. Matamu: bintang, bertaburan di setiap sudut langitku. Selayak mahkota dewi yang bertahta do'a para dewa: mantra asa yang diucapkan bumi kepada matahari setiap pagi dan petang. Menjadi pedang, merobek segala angkuh selimut jiwa. Hingga telanjang segenap rasa yang ada.

Kau tahu, atas namamu: altar puja tak pernah sunyi. Aroma dupa semerbak di udara, menyatu dengan harum kayu tubuhmu. Peluhmu? Bunga: mewangi di atas batu abadi. Seperti wangi hujan di malam hari, jatuh tanpa ragu di telaga hati.

Demi segala yang kukasihi, sesuatu telah terjadi di sini. Sejak mengenalmu pertama kali. Tercipta riuh dalam sepi di istana bidadari. Istana yang senantiasa kukunjungi dengan kendara fajar saat malam hampir usai. Aku mencarimu di sana. Pun desahku, memanggil namamu.

Lalu bagaimana mungkin aku melupa? Jika kecupmu enggan hilang jejaknya. Resap melampaui sekat angan. Menjelma kenang yang tak berkesudahan. Kau telah menjadi bagian hidupku. "Pun aku.." katamu. Duh.. Kokoh jiwamu mengusir ragu. Syahdu kasihmu membasuh luka. "Usah ada pilu, walau rindu membiru.." harapku.

Dan dengarlah kini puan, sebaris kata yang kubisikkan pada angin malam ini. Kata yang tak sengaja sampai pada indera purnama. Kata yang membuatnya malu, lalu sembunyi di sebalik awan. Sajak jiwaku yang merindu jiwamu, sedang kata itu adalah abadi.

Sebab kau agung di mataku
: maka dengan ini, aku mencintaimu.

2011
Bait Rindu Lelaki Sepi
ZAIN AL AHMAD

May 24, 2011

Tuliskan Prosa Untukku

MALAM masih jauh dari ujung. Masih panjang kisah yang dapat tergoret di dindingnya. Tapi kupastikan, namamu akan selalu ada dalam setiap kisah yang tercipta. Jangan tanya mengapa, kerna kau 'tlah tahu jawabnya. Sudah kubilang bukan? Kau cinta dalam nafasku.

Hei sayang, tapi kenapa kamu diam? Adakah sesuatu yang hendak kau katakan? Katakan apa saja padaku, pun aku akan mendengarmu.
"Tuliskan aku prosa..!" pintamu kemudian. "Tentang apa?" Aku bertanya. "Tentang rasamu untukku, dan tentang aku di semesta kita yang satu.." jawabmu manja.

Maka beginilah aku. Duduk di depan laptop tua, gerayangi tubuhnya dengan jemari yang menari merangkai aksara. Barangkali tidak cukup indah bagi mereka yang mengaku penyair. Tapi bagiku, ini adalah nyanyian hati seorang lelaki yang sedang jatuh cinta, menjadi gila kernanya; sedemikian hingga, buncah rasa meluap dari tepi cawan hati lalu terluah melalui keindahan kata-kata.

Ya, pernah kutulis tentang malam yang bercahaya dalam gelap. Kau sebut ia; kegelapan yang bercaya. Pernah juga aku berkisah tentang bintang, tentang merah di setiap sudutnya yang berpendar. Lalu kau namakan ia; bintang merah kesayanganmu. Terakhir aku bertutur tentang aurora yang menjelma dinding di langit ujung utara bumi. Tempat kita menari di bawah rinai serbuk bintang yang berkerlip serupa juta kunang-kunang yang datang di antara jeda dua hujan. Kau bilang itu indah, dan kau menikmatinya. Pun aku, sama.

Dan kali ini sayang, aku ingin bercerita tentang sebuah kota yang 'tlah kubangun untukmu. Kota yang berkerlip bagai bintang yang kau puja, berpendar serupa aurora yang kau cintai. Atilan, kota kita di bulan. Maukah kau ikut denganku? Maka kenakan gaun merahmu sayang, malam ini kita berkunjung ke sana.

Perjalanan menuju Atilan, akan kita tempuh dengan kendara pawana, dari juta rindu punya kita. Bertolak dari altar puja yang di dasarnya bertahta namamu. Mihrab kecil tempatku mengeja sosokmu dalam isak do'a saat bermanja dengan sang kekasih. Jangan takut sayang, sesayapku cukup kuat untuk menopang kita. Peluk saja aku dan bersenandunglah, nyanyikan lagu: lagu rindu saat cinta memerah muda di langit kita.

Lihatlah sayang, jika telah nampak dalam pandangmu, tujuh puluh makhluq langit yang rupawan berbaris membentuk setapak, maka kita telah sampai. Kembangkan senyummu, dan biarkan mereka mengalungkan rangkai bunga abadi di lehermu. Tidakkah kau dengar? sorak sorai penduduknya menyambut kau datang. Usah bertanya mengapa. Lupakah? Kau ratu semesta. Perayaan hadirmu tentu bukan hal yang aneh bukan? Nikmati saja, sesap hingar bingarnya hingga ke setiap inchi tulang darahmu. Kerna kau pantas, sebab kau layak menerima itu.

Sayang, beritahu aku jika kau hendak pulang. Nikmati waktumu di sini, tanpa ada yang kan mengganggu. Ini duniaku yang 'tlah kuberikan untukmu. Saat kembali nanti kita singgah di bintang merah. Ambil sekantong serbuk bintang dan debu angkasa untuk kau bawa pulang. Agar malam yang kau lewati selalu saja menyimpan cahaya dalam gelapnya.

Selamat malam sayang, demikian prosa untukmu. Terangkai dari hati yang berlumur madu, semanis kasih yang kau simpan di dada kiri: untukku.

Tolitoli - 2011
ZAIN AL AHMAD