Showing posts with label catatan. Show all posts
Showing posts with label catatan. Show all posts

May 27, 2011

Sebab Hidup Itu Indah

Pada malam kutatah aksara satu-satu, meski tertatih. Berkas kenang berlarian di kepala: anak-anak waktu yang lelah diterpa zaman, sedang kala tak memberi masa untuk jeda. Terus menggilas segala ada hingga tiada lalu mengada kembali. Pagi tiba, senyum mentari nampak malu-malu. Ada pelangi di antara awan, padahal fajar tidak mengirim hujan. Barangkali pagi sedang berbaik hati, susah payah meretas embun hingga berwarna. Tapi ada mendung membias di utara. Ah.. Sudahlah. Tidak ada yang sempurna bukan? Maka aku tak sabar menanti: ada apa di langitku siang nanti, dan malam bila ia datang lagi. Ya. Hidup ini indah. Maka nikmat mana yang akan kau dustakan, Saudara?

2011
Bait Rindu Lelaki Sepi
ZAIN AL AHMAD

Bait Rindu Lelaki Sepi [2]

bulan dan bintang sembunyi di sebalik awan
barangkali akan hujan
langit menggelung hitam, kelam
sesekali kilat memecah gelap di utara
hadir sedikit terang di punggung kembara
walau tak mampu mengusir lembab di udara
menjelma jelaga pada jiwa yang gelisah
sarat kesah, resah
ah, desah nafas semakin berat
ada segumpal rasa yang tersumbat
namun seketika hilang setelah tiba angin barat
: berbisik di helai dedaun bambu
mendesau merdu, syahdu
gerisik menyebut sebaris nama
sebait pesan terdengar lirih di sela suara-suara
sebagai puisi tempat sajak bermuara
padahal rindu hampir saja berubah pilu
berangsur layu, di bening mata sayu
lalu mekar kembali, merekah di hati
luluh di lekuk kasihmu yang kunanti

2011
ZAIN AL AHMAD

Tuhan, Aku Mencarimu di Detak Nadi Sajak Pagi

Aksara waktu berlarian di kepala. Mendesir. Merecik. Bisik-bisik suara sepi. Sunyi. Ngilu. Bisu. Padahal mentari telah bersusah payah merangkai puisi. Menulis syair api di punggung daun jati. Tapi malah membakarnya jadi abu. Berangsur jadi debu. Duh.. embun enggan mendengar rintihnya. Hanya menjelma uap, sebagian lagi terserap tanah. Musnah. Lewat begitu saja, Tanpa sudi menoleh. Hilang. Lekang. Bawa serta bekas jejak yang berserak. Ada jengah di dada. Setapak peluh menjadi keluh. Lepuh. Lunglai rapuh imanku. Yakinku dibonsai pedih. Pilu. Teriris tiram yang tumbuh menjelma karang. Gamang. Remang. Nalar redup. Akal gugup. Mendaki tebing curam. Jatuh di laju arus jeram. Muram. Wajahku wajahmu: suram, renang di genang kelam. Sedang langit cuma diam, saat aku mencarimu di detak nadi sajak pagi ini.

2011
Bait Rindu Lelaki Sepi
ZAIN AL AHMAD

Pada Suatu Siang di Ruang Sidang Yang Mulia Hakim

aku disiksa tuan, di dalam sel itu. yang sempit. yang dingin lantainya. yang bisu temboknya. lihatlah tuan, kuku ibu jari kakiku. yang kanan. yang biasa kulangkahkan menuju sepetak kecil sawahku. kini koyak. perih. tercerabut. tak berkuku lagi. lihatlah tuan. gigiku patah. yang kanan. yang bawah. mungkin geraham namanya. dua sekaligus. bekas hantam tangan terkepal. lihat pula tuan. ada darah di air seni. balok kayu telah menggedor dadaku. aku, rubuh. oleh dia yang punya kuasa. anjing penguasa negeri. yang digaji dengan uang kami. yang kami pelihara lalu balik menggigit. tanpa ampun. kasar dan beringas. duh.. tuan, aku dipaksa akui yang tidak kuperbuat. bukan aku tuan. percayalah. sungguh. bukan aku yang mengambil semuanya. cuma satu saja tuan. sudah kujual untuk makan anak istriku yang lapar. untuk sekilo beras dan seikat ikan laut mentah. sebab  mereka merintih. tapi rintihnya tak terdengar. seperti rintihku saat gigi dan kuku ini terpaksa cacat di hari itu. tuan, balaskan dendamku.

2011
ZAIN AL AHMAD

Do'amu, Kekuatanku

"Allah dan Aku, bersamamu sayang. Bismillah!" Bisikmu tenangkan gundah di hati. Demi segala kebaikan yang turun dari langit, jiwaku menjejak di inti bumi. Demi do'a yang naik ke langit, jiwaku menyentuh bintang. Aku tertawan, pada tulus senyummu, pada batu yakinmu. Yaitu kata yang kau goretkan di lembab dingin dinding malam ini. Menjadi karang di dada. Menjelma cadas di jiwa. Aku sekarang gunung. Aku sekarang badai. Bawa kemari itu rintang, bawa ke sini di hadapku. Adalah pedangku: do'a kekasih dari bening jiwa. Telaga harap yang tak pernah kering. Ada cita dan binar cahaya. Isak terlantun. Merdu. Syahdu. Memanggil-panggil tujuh malaikat langit. Pada lindung kepak sayap Djibril, kau menitip bisik lirih. Kepada angin. Kepada daun-daun. Kepada hujan di sepertiga malam. Sebab kau jiwaku, maka padamu pula aku menitip do'a. Tahukah? do'amu: kekuatanku, sayang. Itulah sebabnya aku memanggilmu kekasih jiwa.

2011
Bait Rindu Lelaki Sepi
ZAIN AL AHMAD