Palu diketuk tiga kali. "Sidang dibuka dan dinyatakan tertutup untuk umum!" tegas Yang Mulia membuka sidang. Petugas pun menutup pintu dan jendela. Pengunjung dipersilahkan keluar. Ada yang bertanya kenapa. "Ini sidang perkara asusila.." jawab penjaga seadanya.
Ruang hijau itu menjadi lengang. Seorang lelaki muda duduk di tengah, tepat di depan Yang Mulia. Nampak pasi wajahnya. Barangkali mulai jenuh setelah mendekam beberapa minggu di tahanan. Dingin jeruji hampir saja merenggut kemanusiaannya.
"Benar, saudara melakukan itu pada Bunga?" cecar Jaksa bertanya.
"Itu semua tidak benar Pak. Saya tidak pernah bersetubuh dengan Bunga. Sumpah demi Allah Pak." jawabnya terbata.
"Saudara sudah dengar kesaksian Bunga kemarin bukan?"
"Dia bohong Pak. Saya tidak akan mengakui apa yang tidak saya lakukan.."
"Lalu apa yang saudara lakukan?"
"Saya mencintai dia Pak. Bahkan lebih dari istri saya sendiri. Saya ingin menikah dengannya. Jika sebab itu saya harus dipenjara, biarlah!"
"Saudara tahu Bunga belum layak untuk dikawin?"
"Perempuan kelas I SMK seperti Bunga di kampung saya sudah banyak yang kawin koq Pak!"
Ruang sidang kembali lengang. Jaksa sibuk memeriksa lembar demi lembar berkas merah di depannya. "Panggil Bunga Masuk!" Ujar Yang Mulia memberi perintah.
"Bunga, pengakuan saudara dibantah oleh terdakwa. Apa tanggapan saudara?"
"Dia bohong Yang Mulia. Saya disetubuhi lima kali olehnya."
"Ingat Bunga, saudara di bawah sumpah.."
"Iya. Yang Mulia, saya ingat.."
"Saudara sudah baca hasil visum et repertum?"
Bunga tersenyum pasi, sekejap hilang kata.
"Saudara mengerti apa kesimpulan dokter pemeriksa?"
Bunga semakin gelagapan.
Hening datang lagi, nampak senyum di wajah terdakwa. Tapi bukan lagi senyum pasi. Lega menggurat tegas di garis wajahnya yang kuyu.
2011
ZAIN AL AHMAD
Showing posts with label Fiksi Mini. Show all posts
Showing posts with label Fiksi Mini. Show all posts
June 3, 2011
March 3, 2011
Bila Tokek Kebelet Kawin [Kotek #2nd]
TELAH berlalu tiga puasa pun tiga lebaran namun Kodok tak jua kunjung melamar. Resah hati Tokek meremang dalam gamang akankah kekasih tegaskan cinta.
Pun dalam gundah yang membuncah di tepi empang cinta saat senja mulai memerah, Tokek terlihat gelisah dalam lamun. Kodok datang menghampiri..
"Rupanya langit sedang mendung, ada gerimis yang membayang. Duhai sayang kenapa murung, ada apa gerangan?" ujar Kodok melempar pantun, yang tertimpuk pantun indah itu hanya tersenyum tanpa garam dengan sedikit asam jawa di wajahnya.
"Kemana ajh kamu? Koq baru muncul.." ketusnya. "Aku selalu ada, menunggu panggilan dari hatimu sayang.." jawab Kodok mesra. "Ich, gombal! Hatiku bukan ruang tunggu dokter kandungan tauk..!" balas Tokek sengit.
Ahai, Kodok tercekat.
Pun dalam gundah yang membuncah di tepi empang cinta saat senja mulai memerah, Tokek terlihat gelisah dalam lamun. Kodok datang menghampiri..
"Rupanya langit sedang mendung, ada gerimis yang membayang. Duhai sayang kenapa murung, ada apa gerangan?" ujar Kodok melempar pantun, yang tertimpuk pantun indah itu hanya tersenyum tanpa garam dengan sedikit asam jawa di wajahnya.
"Kemana ajh kamu? Koq baru muncul.." ketusnya. "Aku selalu ada, menunggu panggilan dari hatimu sayang.." jawab Kodok mesra. "Ich, gombal! Hatiku bukan ruang tunggu dokter kandungan tauk..!" balas Tokek sengit.
Ahai, Kodok tercekat.
February 12, 2011
Empang, I'm in Love [Kotek #1]
KOTEK - kodok dan tokek - begitu mereka menyebut namanya, sebagai nama kesayangan, menjadi sebutan manja saat hendak menyebut 'kita'. Kotek - sepasang kekasih yang berbeda jenis, dengan kisah cinta yang berliku, absurd dan ambigu.Hingga tiba suatu masa saat senja masih muda. Kodok termenung menatap mendung yang sejak tadi bergelayut di kaki langit utara, sembari menyambut rintik hujan yang jatuh satu-satu. Rintik yang menitik, rintik yang selalu dapat mencipta syahdu di genang rasa, rintik yang mampu membuat hati dua makhluq yang saling mencinta menjadi merah, memerah muda; termasuk bagi Kotek - Kodok dan Tokek.
"Dear, ke empang yuk. aku kangen," bisik Kodok manja kepada Tokek kekasihnya di sela gerimis senja itu. "Sebentar ya sayang, kamu duluan deh. Aku sedang menyelesaikan sesuatu nih," jawab Tokek tak kalah manja.
January 12, 2011
Lagi, Cintaku Luluh di Malioboro
SENJA jatuh setelah hujan mengguyur Jogyakarta sejak siang tadi. Air menggenang di aspal Malioboro saat kita terpaku diantara lapak-lapak kaki lima yang masih lenggang sepi pengunjung. Nampak wajahmu begitu sendu tertunduk lesu tanpa senyum. "Tolonglah Lluvhia, jangan kau desak aku untuk mengakui apa yg tidak aku lakukan," sergahku pecahkan sunyi. Kau tak bergeming, hanya jemarimu yang terihat sibuk bermain. "Jangan kamu hamburkan ribu aksara itu, semua sudah gak ada makna lagi. Kamu bohong, aku sedih kamu jadi seperti ini. Aku kangen kamu yang dulu," lirih suaramu tergetar akhirnya buka bicara namun wajahmu tetap kau sembunyikan dari tatapku.
Lelampu jalan mulai menyala namun aku belum juga dapat meyakinkan hatimu yang mulai beku kerna kebodohanku. Lesehan Malioboro mulai menggeliat namun sendu di galaumu masih juga kau simpan rapat di kisi hati yang berusaha menghindariku. "Lihat aku," pintaku sambil mengangkat dagumu lembut dengan ujung jari. "Ini masih aku, punya kamu. Aku yang dulu. Seinci pun aku tidak berubah. Ya, mungkin ada kesalahan-kesalahan kecil di sana sini. Tapi ini tetap aku." kataku coba tenangkan gundahmu. "Plak! perih terasa di pipi. Tak kuduga kau akan semarah ini. "Sudah kuberikan segala apa yang kupunya. Apa itu belum cukup?" hardikmu meradang pun air mata menderai di wajahmu. Kuusap leleh hangat di pipimu itu dengan telapak tanganku pun trenyuh kurasa. "Aku memang layak terima ini. Aku salah. Tapi tolong, jangan ragukan kesungguhanku untuk berubah," ucapku berusaha bawa kau dalam dekapan namun kau meronta berusaha menghindar..
Kronelegi
SAAT mentari seujung tombak - "Beibs, pagi ini aku pergi terburu. Maaf tidak sempat pamit dan temani kamu sarapan. Kau pulas seperti bayi. Terimakasih untuk malam tadi. Love u." Ada cekat terasa saat membaca segoret pesanmu di secarik kertas itu, yang kau letakkan di tepi peraduan bersama setangkai mawar hitam.
12.02 Wita - "Dear, sudah di kantor? Aku masih rindu. Ntar malam aku ke tempatmu. Tunggu kamu pulang. Ada suprise buatmu. Miss u," pesan singkatmu memecah padatnya agenda siang ini.
16.34 Wita - Dua agenda hari ini belum juga rampung masih butuh dua atau tiga jam lagi. "Hun, aku telat pulang. Kunci ada di tempat biasa. Text me klu dah nyampe. See u," terkirim pesan singkat ke nomormu di sela riak buncah rindu ingin segera bertemu.
12.02 Wita - "Dear, sudah di kantor? Aku masih rindu. Ntar malam aku ke tempatmu. Tunggu kamu pulang. Ada suprise buatmu. Miss u," pesan singkatmu memecah padatnya agenda siang ini.
16.34 Wita - Dua agenda hari ini belum juga rampung masih butuh dua atau tiga jam lagi. "Hun, aku telat pulang. Kunci ada di tempat biasa. Text me klu dah nyampe. See u," terkirim pesan singkat ke nomormu di sela riak buncah rindu ingin segera bertemu.
January 12, 2010
Tirta Serlina, cinta di ujung senja
SENJA meremang coba hapus jejak dian surya temaram, malam bungkam enggan menyapa, rebah asa di tonggak serapah, merapal doadoa tentang esok yang keliru. Melayang aku merebak langit yang tujuh, menebar kasih hingga sepuh, pada jinggajingga yang merekah di ufuk barat. Saat kembali menjejak bumi, di ujung siang yang memudar, kutulis puisi tentang malam namun ia terlalu gelap untuk terangmu. Lalu jemari menari merangkai cerita tentang senja. Senja temaram yang tengah selimuti sekeliling pandang. Serak jejak pagi tersisa di sana , seakan hendak tegaskan diri, sepertimu yang tengah penuhi bingkai pandang.
Dan malam masih muda masih tersisa sendu di sudutnya, bintang setengah pun enggan tersenyum, layaknya wajah gadis belia merona. Ada senyum terkulum, seutas manis semanis madu, ada hati yang bernyanyi, nyanyian cerita cinta. Tirta Serlina namanya. Gadis belia yang tersenyum manja. Ujung mata nanarnya tatapku sayu, sela bibir tipisnya bernada, tak henti bersenandung riang.
Mataku lalu tertumbuk pada nyata. Tirta Serlina, jika kau bahagia, lalu mengapa kau terpekur di sudut sana ? Merenung katamu, bulir hangat yang jatuh di pipi tak kuasa berdusta.
Cinta Bicara
Nyalakan dulu suluh itu, biar terlihat cinta yang bersemayam. Bukan pakai mata, pakai hatimu, yang melihat dalam dengar. Hingga cinta tidak sayup bagimu dan tabirnya menipis layaknya siluet jingga yang menggantung di ujung pagi.
Hanya bisa sampai di situ. Hentikan! jangan buka lagi tabir itu. Api cintaku tengah menyala panas di tungku. Panasnya mampu membakarmu. Hangat yang kubagi cukup untuk menghapus gundahmu. Usah ragu, nyala ini akan terus menyala. Mendekatlah dekat, tanganku kan tetap terulur. Namun sekedar 'tuk usap penat di dada.
Lalu lihat di sana , di sudut gelap hatimu. Lihatlah rindu jiwa yang makin menderu, geliat rasa hingga membiru. Hati ringkih melengking pilu, ramai sepi dihujam sembilu. Sudut sunyi tempatmu mengeluh, terdengar suaramu mengaduh. menunggu saatnya bersatu, lalu asa beku membatu
Sintesa
Bulir di pipimu jatuh lagi. Kubawa sumbat di tutupnya. Sunyi yang kutitipkan kemarin begitu tebal hingga menghalau surya. Angkat saja tabirnya agar kau kuasa berfotosintesis dengan bayangku.
Tidakkah kau temukan sepotong senja yang kusimpan untukmu? Kuselipkan di sela gundahmu pagi tadi. Ia akan menjadi tanda bagiku layaknya bintang di ufuk timur. Letakkan ia tepat di sudut hatimu, agar kutemukan peraduanmu saat ku melintas di atas langit malammu.
Tirta Serlina, tidurlah kau di sabuk pelangi.
--- o0o ---
*Nama tokoh dalam tulisan ini rekaan belaka, mohon maaf bila ada terdapat kesamaan nama, itu hanya kebetulan saja.
Subscribe to:
Posts (Atom)


