Showing posts with label Essay. Show all posts
Showing posts with label Essay. Show all posts

February 2, 2011

Romanizem [Bila Cinta Hadir untuk Membebaskan]

Prolog

HIDUP adalah soal sedetak jantung dan setarikan nafas, begitu rapuh begitu labil dalam sifatnya yang ambigu hingga kematian dapat datang kapan saja dan di mana saja. Lihatlah wajah-wajah manusia, ketakutan memenuhi setiap guratnya, takut pada kematian bahkan pada wajah mereka yang mengaku tidak takut mati.

Lalu muncul ide tentang kekuatan untuk memilih yang saling berhadap-hadapan dengan ketidakberdayaan di antara pilihan itu sendiri. Keterbatasan dunia manusia melingkupi semua aspek dalam kehidupannya tidak terkecuali dalam kebebasan memilih. Manusia tidak dapat memilih di rahim mana dia lahir dan kapan dia mati. Begitu banyak kenyataan hidup yang akhirnya menuntun manusia ke dalam kondisi ketidakberdayaan yang kemudian mereka sebut ketidakberdayaan itu sendiri dengan nama pilihan.

Lain dari pada itu, tidak dapat dipungkiri saat membicarakan manusia dan kemanusiaannya, akan selalu berawal dan berakhir pada pembicaraan tentang cinta. Sesuatu yang sejatinya juga berhubungan dengan segenap bagian dari semesta kehidupan manusia baik di dalam maupun di luar dirinya. Hidup, pilihan, dan kematian tidak luput dari dekapan cinta sehingga telah tiba di suatu titik di mana manusia tidak dapat lari dari naungan sayap-sayap cinta.

May 31, 2009

Pandangan Mata Khianat

MALAM baru saja pamit pada bintang saat senandung subuh mulai memenuhi ruang pendengaranku. Alunan suci kalamNya bersahut-sahutan dari pengeras suara yang terpasang di rumah-rumah ibadah kaum muslim itu sementara aku masih berkutat dengan diriku yang seakan tidak pernah lelah mengajukan pertanyaan tentang apa saja. Kali ini diriku mempertanyakan tentang pandangan mata yang berkhianat. Pertanyaan yang telah menyita tidurku sejak tiga hari silam.

Berawal dari sebuah pesan singkat yang siapa dan untuk maksud apa seseorang yang tidak dikenal mengirimnya ke kotak masuk telepon selulerku. Sesuai dengan namanya, isi pesan itu singkat saja, "hati-hati dengan pandangan mata khianat." "Akh, pesan apa pula ini," kataku membatin. Pesan itu membuat terngiang kembali di telingaku kata seorang sahabat yang mengatakan, tidak boleh seorang laki-laki memandangi wanita bukan muhrimnya. Pandangan pertama, lanjutnya, adalah rahmat namun lekaslah berpaling karena pandangan kedua dan seterusnya menjadi fitnah. Lalu aku bertanya apakah pandangan kedua itu yang disebut pandangan mata khianat? Siapa yang dikhianati, wanita itu atau diriku sendiri? Sahabatku membenarkan pandangan kedua yang membawa fitnah itu yang dimaksud khianat dan yang dikhianati adalah diri sendiri.

Aku pun terdiam dan tidak bertanya lagi namun bukan berati puas dengan jawaban itu bahkan muncul beberapa pertanyaan baru lagi yang membuat malam-malamku semakin panjang seperti malam ini.

Malam semakin jauh meninggalkan bintang azan pun telah berkumandang. Bangkit aku menuju tempat air sekedar 'tuk menunaikan kebutuhanku membersihkan diri agar kembali suci dari hadas besar dan kecil. Kutautkan diri di depan cermin lalu kulihat jelas wajahku, aku pun tersenyum melihat bayangan di cermin itu tanpa sadar ada terselip ujub dalam senyum itu. Seutas senyum kebanggaan, merasa bangga pada diri sendiri dan untuk sepersekian detik itu aku lupa aku hanya berasal dari air hina, lupa bahwa Allahlah yang Maha Indah yang telah menciptakan manusia dan menyempurnakan pembentukannya.

Fikiranku berhasil meperdayai aku, berhasil memutus tali Allah di saat seharusnya kugenggam erat sesaat sebelum menghadap bersujud padaNya. "Akh, pandanganku mengkhianatiku," hatiku menyesali kejadian itu. Tersentak aku mendengar kalimat yang bari saja meluncur dari batinku itu. Aku pun tersenyum, dan kali ini senyumku makin lebar, bukan senyum ujub, bukan senyum bangga pada diri sendiri namun senyum syukur padaNya yang baru saja mengajariku. Ya, pertanyaanku menemui jawabnya, pandangan mata khianat ternyata begitu sering aku lakukan yaitu pandangan yang apabila ia kembali padaku menjadikan aku lalai dari mengingatNya. Bukankah semua yang ada di depan kita adalah milikNya? Bukankah tidak ada sesuatu pun yang bergerak atau diam di muka bumi ini kecuali atas kehendakNya? Lalu mengapa saat pandangan kita melihat kecantikan seorang wanita dan pandangan itu kembali tidak bertambah iman kita karena menyadari bahwa wanita itu adalah ciptaanNya? Subhanallah begitu sempurnanya Allah Tuhan seru sekalian alam. Tidak, jika itu terjadi, pandanganmu telah mengkhianatimu.

Apakah cuma seputar wanita saja? Tidak, semua yang kau lihat adalah ayat bagimu. Tidak satu pun ciptaanNya di muka bumi ini yang sia-sia, pasti mempunyai maksud dan telah direncanakan oleh Dia Sang Maha Pembuat Rencana dan mempunyai dua hal sekaligus, petunjuk atau fitnah bagimu. Saat pandanganmu kembali dengan membawa petunjuk maka beruntunglah kamu, bukankah orang beriman itu jika dibacakan padanya ayat-ayat Allah maka akan bertambahlah iman mereka? Ya, ayat-ayatNya telah dibacakan padamu, lewat tingkah anak-anakmu, lewat perkataan yang kau dengar, lewat setiap gerak gerik keseharianmu sekecil apapun itu, sesepele apapun itu menurutmu, bacalah, bacalah dengan nama Tuhanmu semoga engkau termasuk beruntung dengan mengambil pelajaran darinya dengan bertambah-tambahnya imanmu. Lalu jika kau hanya mendapat fitnah saja saat pandanganmu kembali, mohon ampunlah padaNya, jangan putus asa, kembalilah padaNya, namun ketahuilah, pandanganmu telah mengkhianatimu!

Udara dingin masih tersisa, lamat-lamat suara azan masih terdengar, bergegas aku menuju asal suara itu. Diperjalanan kupanjatkan doa, Ya Allah sungguh engkau Maha Bijaksana, kuminta padamu ilmu, lalu Engkau ijabahi pintaku dalam kesempatan 'tuk belajar, Engkau masukkan aku ke dalam ujub agar aku mengenal ujub itu, Kau masukkan aku dalam keadaan kafir (tertutup) dan Kau berikan aku kekuatan untuk keluar darinya. Maha Suci Engkau Ya Allah, Alhamdulillah ala kulli hal. Lalu kuhardik diriku, hai diri yang hina, hai kau yang menyebut dirimu Zainal Ahmad, maka nikmat Tuhanmu yang mana yang akan dustakan?

@sabdabumi

May 27, 2009

Tentang Mati

TIGA garis pada indikator signal dan tiga garis pula pada indikator baterai tertera di layar monitor N 9300 milikku saat ini, saat jariku menari menekan tuts penggubah ide menjadi makna. Malam tinggal sepertiga, tubuh ringkihku merebah namun jiwaku membumbung tinggi menerawang langit dalam gelap.

Sesaat jiwaku kembali, ditangannya terselip sepucuk surat untukku. Surat itu tidak bernama, hanya selembar kertas putih tanpa huruf namun syarat pesan. Suatu pesan tentang mati, cinta dan hidup. Lalu mengapa bukan hidup, cinta dan mati? Kenapa dalam pesan itu, mati disebutkan terlebih dahulu? Akh, kuhentikan perdebatan tentang itu hingga mati datang menceritakan kepadaku tentang dirinya. Mati pun berceloteh dengan bahasa yang sama sekali tidak kupahami. Terus mengucap kata hingga aku sadari bahwa aku terlalu hidup untuk memahaminya. Aku terjebak dalam kematian sebagaimana aku dan kamu pahami yaitu berpisahnya raga dengan ruhnya lalu diarak ramai-ramai oleh handai taulan menuju ke tempat penguburan. Bukan, dia bukan mati yang itu. Sang Mati pun menjelaskan, setiap makhluq yang bernapas pasti akan merasakan mati namun tidak semua makhluq yang bernapas didatangi oleh Sang Mati yang ini.

Mendengar penjelasan Sang Mati nalarku spontan memberontak, sejuta pertanyaan dan sanggahan siap kulontarkan namun Sang Mati mulai angkat bicara hingga aku pun terdiam. Sang Mati lalu menyuruhku untuk memperhatikan saudara sepupunya yang bernama Tidur. Tidur kata Sang Mati adalah contoh yang paling dekat untuk mengenali dirinya. Bukankah saat Fulan tidur, bagi Fulan, raganya itu bukan dia, karena Si Fulan tidak ada di situ namun pada saat yang sama Si Fulanah yang melihat Fulan sedang tidur pasti akan menunjuk raga yang sedang tidur itu adalah Fulan. Nah Aku, lanjut Sang Mati, mirip dengan kondisi itu.

Mirip bagaimana? demikian nalarku mempertanyakan mencari jawaban. Sang Mati pun melanjutkan celotehnya dan dari penjelasannya aku ketahui bahwa maksud Sang Mati ialah suatu kondisi dimana seorang hamba saat beraktifitas apa saja benar-benar menyadari sepenuhnya bahwa ia digerakkan oleh Sang Maha Penggerak hingga dalam hal keadaan ini Si Fulan hanya menjadi saksi apa yang dilakukan oleh setiap anggota badannya. Itulah aku kata Sang Mati.

Akh, nalarku masih belum mau menerimanya. Konsep apa lagi ini kata nalarku. Tidak masuk akal bila aku terpisah dari ragaku. Sang Mati tersenyum melihat kebebalanku. Ia memberikan aku sebilah pisau. "Irislah tanganmu dengan pisau itu," perintah Sang Mati kepadaku. Aku pun melakukan perintahnya. "Tidurlah, tidurlah sebagaimana layaknya manusia tidur," kata Sang Mati. Aku menurut. Entah berapa lama aku tertidur, Sang Mati membangunkanku, lalu bertanya padaku apakah aku merasakan sakit pada luka irisan pisau itu saat aku tidur, kujawab tidak, aku hanya merasakan sakit pada saat aku sadar. Kuperhatikan tanganku, di sana luka itu masih menganga seperti sebelum aku tidur. Aku tersentak oleh kenyataan, jika luka itu tetap menganga dan jika raga bersatu dengan diriku lalu mengapa aku tidak merasakan sakit saat aku tidur? Siapa sebenarnya yang sakit, ragaku yang terluka atau diriku? Aku pun teringat pada penjelasan Sang Mati tentang tidur di awal catatan ini. Aku ada namun hakikatnya tidak ada sampai aku sadar bahwa aku diciptakan hanya untuk menyaksikan kehendakNya tegak di muka bumi ini. Tergugu aku disengat sadar, lamat kudengar suara berkata, di bumi itu engkau hidup, di bumi itu engkau mati dan di bumi itu pula engkau dibangkitkan.

Maka ni'mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

@sabdabumi