Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

December 10, 2011

Alir Rindu


rindu mengalir deras pagi ini
mencipta jeram di hati
selaksa jiwa yang hujam
karam di pelupuk temaram

rindu mengalir deras pagi ini
sedang pilu sudah selesai di sepakati
kerap tersulam di atas tilam
pecah pinta di punggung pualam

rindu mengalir deras pagi ini
sebelum engkau memintanya untuk mati

~ Nal

Ketika Sajak Pagi Terluka


ada duri di jemari embun
menetes jatuh tanpa sengaja
terselip di helaian rindu yang rimbun
menterjemahkan pagi sebagai luka


"siang sebentar lagi datang, tapi pagi enggan tersenyum.." 
bisikmu menyingkap cerita.


maka ketika sajak pagi terluka
kisah ini tak sanggup lagi kulanjutkan
menemu akhir, menemu titik di genang duka
sebelum koyak terlalu perih untuk menjadi kenangan


: demi setapak merah yang masih jauh dari usai
seisak maaf merecik haru, lebam biru rinduku.


~ Nal

May 27, 2011

Hikayat Kemarau

"sebab langit telah menciptakan aku sebagai kemarau, itulah mengapa aku merindu hujan. tahukah? hujan itu, kamu."

adalah kemarau: pesan rindu langit kepada batu-batu di puncak gunung, kepada tanah kering yang tertanak mentari, kepada butir pasir yang menjelma bara di garis pantai, dan kepada daun-daun yang menjadi api di hutan rimba.

yaitu pesan rindu yang membara. seperti amarah. merah. hingga sanggup membakar semesta.

ya. kemarau merindu hujan. sedang hujan tak pernah ingkar janji. bila tiba waktunya, hujan datang membawa damai. membawa kasih kepada seru sekalian alam.

Tolitoli - 2011
ZAIN AL AHMAD

Hujan Bulan Mei

hujan bulan mei, adalah gerimis miris yang membasah di tanah batu.
mencipta noktah hitam di laras mentari. wajah langit disaput lara, tertatah duka di sekujur puisi. menjadi dingin sebagai ingin. laku berubah kaku. bait-bait sepi merenggang nyawa. hilang makna. hilang masa. teronggok di tepi semesta.

hujan bulan mei, adalah anak kegelapan yang mencabik malam dengan belati.
jejiwa lena di rahim gelap, tempat gelisah pecah berserak merah. ada amarah yang melengking di nadi. merobek keping hati, luruh. rubuh jadi puing, sedang tonggak do'a tak lagi kokoh berdiri.

hujan bulan mei, adalah geram dendam yang menyala di mata senja.
menatap nyalang, sepikulan api menggarang di punggung siang. hangus dibakar resah. ada gundah di sebaris awan saga, sedang bara jatuh merinai tanpa ragu. membuat lubang di jantung kelu

hujan bulan mei, adalah sajak yang tertatih mengeja subuh.
menggelung legam cahaya fajar. pendar bintang berubah layu, meranggas jatuh ke bumi sebelum sempat dibelai embun. sesat dalam bingkai syair bisu: berangsur jadi abu, kembali larut dalam kelam.

: hujan bulan mei, adalah badai yang Kau kalungkan di leherku.

Tolitoli - Mei 2011
ZAIN AL AHMAD

Keranda Puisi

Puisi terbunuh malam tadi. Tubuh ringkihnya kini membujur kaku, semayam di punggung siang. Ada biru menggurat di bibir gelisahnya. Barangkali dingin membuatnya beku, mati. Sebentar lagi jadi abu. Ia tidak ingin kau tanam, kata orang ramai bergunjing tentangnya. Puisi itu hendak satu dengan angin. Mungkin akan mendesau di berandamu kelak, sebagai melati sebagai belati. Merenggut paksa jiwamu ke nirwana. Walau kau tak ingin. Sedang puisi itu: Aku.

2011
Bait Rindu Lelaki Sepi
ZAIN AL AHMAD

May 24, 2011

Bait Rindu Lelaki Sepi

ada jeda di antara dua hujan. recik rintiknya 'tlah lama usai. lalu enggan menderai lagi. mungkin hujan sudah lupa. guratnya di bumi mulai pupus terhapus kemarau.

"lalu untuk apa mengirim mendung, jika kau enggan merinai?" aku bertanya.

ada debu di ujung kaki. kering bukubuku. pecah memecah di ujung kuku. langkah semakin gontai. meretak bongkah hati. seret letih, terus mencari.

ya, akulah lelaki sepi, yang namanya kau sebut dalam puisi. tapi cahaya sudah redup, senyum enggan menyabit. wajahku pasi, penuh luka gores. koyak dan tercabik.

aku, seperti kupukupu yang biru sayapnya. meringkuk di bawah hujan yang merinai. sedang recik hujan itu, adalah belati.

ah, kupukupu bersayap biru. menadah hujan dengan sayapnya
: dingin, seperti puisi

Tolitoli, Maret 2011
ZAIN AL AHMAD

Kurcaci Itu Dikeroyok Raksasa

malam merambat di negeri Khadafi
: kelam, mencekam.
pada lembab dindingnya aku mengeja puisi
bait-bait sepi di sebalik gerimis
seperti gores duka baru
seperti gurat luka pilu.

malam merambat di negeri Khadafi
bintang meringis berpendar pasi
rembulan duduk menangis di sisinya
sedang langit menggelung merah,
merahnya marah
merahnya darah.

Tolitoli - 2011

Gadis Itu Berdarah Lagi

Pada angin pesisir dan buih yang menulisi punggung pantai, ia pernah berbagi cerita. Kisah tentang dedaun kering di ranting cemara. Jatuh ke tanah, menghitam seperti duka. Di dekatnya ada pepucuk pedih yang bertunas dua. Beranak pinak dari luka yang bernanah.

Gerimis merecik merah: mata senja berdarah. Tersabit pedang angin yang lupa mengeja janji. Begitu dalam hingga jingga berubah putih, hingga sendu bernama pilu.

"barangkali di atas sana para dewa hanya melempar dadu. lalu di sini ada hati yang terluka."

Padahal seribu kunang-kunang telah mengabdi di kakinya, sedang tubuh dewadaru menyangga tegaknya. TAK! retak sudah dihantam coba. Khianat tidak pantas berujung maaf.

Gadis itu berdarah lagi, dada kirinya ditikam panah. Malam lebur dalam getir. Gema isak perih mendenting dalam kesah yang mendayu.

Gelisah pecah, sedang arjuna sudah pergi.
Ah! Patah.

Serapah Ilalang

wajah mentari sedang terluka
siang merah seperti darah
amuk marah memanggang bumi
tanah tak sejuk lagi
mata air di rahimnya
bertahap menjadi nanah

terdengar kabar dari utara
tempat bertahta aurora
tentang salju; tak lagi beku
meluruh di ombak biru
: laut menanggung beban berlebih
seperti langit yang lelah menangis
seperti bumi yang menjerit pedih
seperti udara yang terus meringis

kemana kau kupu-kupu?
merindumu di sela angin lalu
tapi kepompong enggan kau tinggalkan.
dimana kau tuan belalang?
mungkin melupa jalan pulang
sibuk mendo'a agar tak diciptakan.

o betapa malam gerah meremang
tiada lagi kerlip kunang-kunang
mungkin bumi sedang dikutuk bintang
hingga pawana menjadi garang
mengutus tsunami menghantam karang

o akankah kenapa berakhir apa?
tangis bumi mengisak tanya
rumput bergoyang tidak tahu jawabnya
apatah lagi ilalang di lembah
hanya mampu mengucap serapah.
cuiih!!
coba tanya ke gedung sana
pasti manusia tahu jawabnya

Tolitoli - 2011
ZAIN AL AHMAD

Dalam Desah Kusebut Namamu

senjakah yang kurindu?
atau semata ingin menemui hadirmu
pada sepoi angin sore di tepi campuhan ini
berharap ia tidak serakah lagi
bawa pergi wangimu untuknya sendiri
yang melekat di dedaun jati
seperti kemarin saat petang begini
aku hanyut dalam ambigu.

lalu kutelusuri lekuk parasmu
dari sebalik gelap yang berabu
ada kasih di sepasang mata
: genang merah berpendar semu
gegurat rindu menjejak di wajah ayu
serupa jejak air di tanah berbatu.

tapi aku belum lupa
pernah pula terbaca pesan di garis gundah
: dua garis tipis di dekat bibirmu
bahwa hidup tidak pernah berhenti berlari
bahwa diam tidak pernah berarti mati.
begitu kuat pesanmu
mungkin akan tetap terkesan sampai nanti di dalam mimpi
menjelma bidadari bertiara intan dengan tudung putih di wajahnya
turun perlahan menapaki bumi
seraya memberi kecup lembut di ujung jemari.

puan, kuingin kau tahu
tadi siang telah kucacah lisanku dengan belati
agar malam ini fasih kueja namamu
yang selalu saja bisa getarkan rindu
bikin merah, merahnya cinta di hati.


duhai puan,
dalam desah kusebut namamu
yang bertutur tentang bunga abadi
yang tumbuh mewangi di atas batu
lambang keteguhan perempuan sejati
dan bertutur tentang karunia Tuhan yang tak tercari
anugerah langit pada recik gerimis di malam hari.
maka panggil aku lelakimu
yang memujamu tak kenal tabu
yang merindumu tanpa malu
dalam desah kusebut namamu
: kerna kau puan, cinta dalam nafasku.
Tolitoli - 2011
ZAIN AL AHMAD

Sebaris Nama di Sebaris Gelap

: Lluvia

Pada kegelapan yang kupuja
tersimpan kenang tentangmu
semakin pekat dekapnya
segala warna menjelma hitam.
Ada gerimis yang menggenang
membentuk serupa kubang
terkaca wajah kita
: absurd
buram serupa bayang
tapi namamu
tersebut di setiap desah
terbawa kendara pawana
resap hingga ke relung jiwa.
Eureka!!
duh, gusti..
: terimakasih
'tlah bertahta kekasih jiwa
sebaris nama di sebalik gelap

Tolitoli - 2011
ZAIN AL AHMAD

Bangkit!

Jangan biar kau ditipu kenang
dan jika ingin mengenang
kenanglah dengan senyum
usah menggenang duka
kenapa harus selalu rapuh
katakan pada dirimu, cukup!
Jangan bongkar yang telah terkubur
tebarkan saja bunga di atasnya
lalu wanginya
jadikan penghias senyum
bukan tangis yang tak berguna lagi
kecuali hanya untuk mengkerdilkan jiwa
Hei, kau hidup dalam kini,
bukan kemarin
apa pun keindahan yang tertinggal,
kini hanya sejarah.
Bangun!
Lalu hadapi segala nyata
mengkasihani diri hanya kerja pecundang
: kau bukan, sekali kali bukan.
Kau pemenang!
Bangkit!!
bukan besok atau lusa
sekarang!!

Tolitoli - 2011
ZAIN AL AHMAD

Dewi Itu Kamu

kau prajnaparamita
sebar tebar kebijakan di bumi
dengan aura, dengan cahaya
hingga sebatang utpala
yang tersemat di lengan kiri
menjelma kasih pada sesama
sedang kau duduk dalam damai
di atas padmasana

kau prajnaparamita
yang tersebut di sela desau pawana
menjadi legenda pada sutra mahayana
sajak-sajak sang bapa
selalu dapat kau dengar
di angin, di gunung, di batu-batu
selalu dapat kau baca
di kayu, di tanah dedaun lontar
dan di tubuh dewadaru
kerna kata adalah abadi
: prajna paramita hrdaya sutra
maka pandang menjelma tipu
maka pandang menjelma tipu
maka pandang menjelma tipu
bangkit!!
kerna kau dewi
bukan syair serapah putus asa.

Tolitoli - 2011
ZAIN AL AHMAD

**
  • prajnaparamita : kesempurnaan dalam kebijaksanaan (nama dewi: dewi prajnaparamita)
  • utpala : bunga teratai biru
  • padmasana : tempat duduk teratai.
  • pawana : angin
  • dewadaru : nama sebuah pohon masih dalam keluarga beringin (Nama lainnya : Euginia Uniflora)
  • prajna paramita hrdaya sutra : merupakan salah satu Sutra yang terkenal dalam umat Buddha Mahayana. Terjemahan Sutra ini dalam bahasa Indonesia dikenal nama Sutra Hati atau Shin Cing (Mandarin). Biasa juga dianggap sebagai ringkasan dari sutra mahayana.

Puan Penjaga Bintang

Katamu kau serupa ilalang
liar, tak terpandang
terinjak lalu mati
: tanpa perlu dikenang.

Tak!
Kau salah puan
ilalang tidak mati
dengan injakan kaki.

Kukenang kau di sekujur nafas
sampai tiba hari naas
tak mau berhenti
tak ingin usai
sepanjang hidup
sampai bumi meredup
sepanjang umur yang tersisa

Jika kau berkenan
bawa ke sini serbuk bintangmu
: sebarkan saja di bumiku.
Tak perlu ada perih
usah ada pedih pilu dalam rindu
di semesta kita
: satu.

Kerna kau kekasih jiwa
ratu di kerajaan gelapku

Tolitoli - 2011
ZAIN AL AHMAD

Yang Tersisa dari Kita

: sajak yang tidak selesai bersama Elmira

bumi, tahukah?
mengapa di sini matahari melukai wajahnya
dan angin bersenandung lirih
remahan langit di bawa pergi camar-camar putih
awan-awan menghitam
hujan disimpul mati

ah.. nyilu

kau tahu Vasudeva?
barangkali dedahan kayu sedang terluka
pun pucuk pucuk pinus mengering
dedaun jatuh satu satu
terbawa angin malu malu
dan reranting enggan bernyanyi
: sepi
tiup angin berhenti,
malam kelam rembulan padam

ah... sunyi.

bumi, ini aku Vasudeva
: dirimu bertanya tentang alam

mengapa engkau berikan sunyi?
: reranting sang pelipur lara
tidak!

sekalipun tak ada kesunyian padanya
: dedauan ribuan sayap
dan dewadaru tubuh
setia tarian pawana
hantarkannya melayang mengawan
terbang menawan
hingga ujung purnama
mengunci bisu pintu langit
dendangkan lonceng kidung-kidung surga

: hentikan rasa sunyi!

tapi Vasudeva
usah takut pada sunyi
kenakan saja burga
: tabir nyalang mata dewi
hingga elang tembaga terbang melangit
di kilau sebelas bintang yang menyabit

kau tahu?
genta dewa telah berdentang
membekam kesah misteri pandora
di ujung desah seribu geisha
bergetar kaso penyangga surga

tapi Vasudeva
laguku terlalu sunyi mendayu
suara syahdu merengkuh pilu
menjerit kesah di tebing salju
: resahku batu, beku di inti bumi.

lalu, kau menghilang. ah!

@Ranting Sepi & Sabdabumi
Maret 2010

*
vasudeva  : dewa dari segala inti dewa
pawana     : angin
dewadaru  : nama sebuah pohon masih dalam keluarga beringin (Nama lainnya : Euginia Uniflora).

Kau, Aku dan Kegilaanmu

Laju nafas seringai senja
berlarian mengejar aksara
berkecipak langkahnya di genang duka
meregang pilu, menjerit kelu
sedang belati di genggam kirinya
tertatih meniti karang batu
mendaki tebing tebing rindu
sembari menjunjung luka di atas kepala.
Hei! Kau perempuan gila
yang mengharap pendar bintang di kertas lusuh
hendak kemana kau bawa jantung merahmu itu
yang baru saja kau simpan di saku
terbelah empat terkoyak ragu
hingga gerimis darah menetes memisuh
menggenang di bawah bulan tempatmu menunggu
menadah malam yang luruh tengahnya.
Ya, kupanggil kau perempuan gila
pada lebam matamu yang meremang kelam
pedang di sorotnya akankah menajam?
Seperti samurai yang merajam
menerjang terjang hingga duka bertahap karam.
Dan kau perempuan gila
yang bimbang dalam dekap lelaki gila
memamah cinta meremah merah
hingga geram rasa terpilah pilah
di helai sayap yang rapuh sebelah.
di akhir asa yang buntung setengah.
Ah, kau perempuan gila
walau kisahmu mencipta ngilu
namun kau tetaplah menggila
kerna kaulah kegilaan itu.

@sabdabumi
setelah membaca note "Perempuan Gila" oleh Shafia Azzahra.

Getir

Lalu apa ini
menyesak serak di dada
mengiris iris jejiwa
: gigil dalam bara
untai aksara menjelma belati
di tepinya ada bekas darah
dari luka yang baru
memercik di lantai
membercak tinggalkan noda.
Apa malam sedang gerimis?
hingga udara begitu lembab
tinggalkan jejak-jejak sembab
pada lisan beku di lafadz kelu
: ngilu.
Suara malam menjadi jerit
bukan lagi noctrune dan serenade
hening tak lagi senyap
sepi-sepi menggurinda
sisakan tanya
tentang apa dan mengapa.
Tapi tanya urung terucap
kerna kenapa tidak harus berujung apa
nimati saja setiap helainya
lalu kita namakan ia
: getir.

Tolitoli - Maret 2011
ZAIN AL AHMAD
: setelah membaca note "Sumbat" oleh : Thera Dewi

Senggama Musim

Bawa kemari itu badai
sudah selesai kau sulam bukan?
Biar kukalungkan di leherku
bersama gelegar guntur di langit jiwa
: menggemuruh mengeja nafas.
Seperti kemarin,
malam ini aku beliung
menopan di pusaran rasa
pada geram kelamin yang menggarang
pada rekah selangkang yang meregang.
Maka tersenyumlah puan
biar nyala itu asa
di basah dinding rahim
hingga dua rembulan
meretak ketuk
pun jatuh terbelah

Tolitoli - 2011
ZAIN AL AHMAD

Pada Sebalik Kelam Senyummu

: Thera Dewi

ingin kuambil cahaya bulan
biar terang wajahmu
atau mungkin satu bintang
agar cerah malammu
sampai esok
pagi datang
kembali

entah sejak kapan
kelam itu hadir
padahal aku di sisimu
akukah yang meredup?
atau ada cahaya lain
yang silaukan pandangmu

semoga jika
enggan menjadi maka
usah hirau ketika
padamkan saja gairah duka
seperti fajar
merekah terang
seperti pagi
berhias pelangi

Tolitoli, Mareti 2011
ZAIN AL AHMAD

Itu Bukan Cinta

Hempaskan saja kembang itu
yang kau genggam hingga lusuh
bikin lemah kau melayuh.
Campakkan saja biar rapuh
nyalakan api mengangsur abu
sebelum kau menjelma layu.

Apa lagi yang kau tunggu
hingga lemah hisap segenap darah?
Apa lagi yang kau tunggu
sampai kering luka bernanah?

Sudah!
hempaskan saja
walau ia kau sebut cinta.

Tolitoli - 2011
ZAIN AL AHMAD