Showing posts with label Prosa. Show all posts
Showing posts with label Prosa. Show all posts

December 10, 2011

Buatkan Prosa Untukku, Za


senja itu. gerimis berlarian. satu-satu bulir bening mengembun seperti tempias hujan di kaca jendela. perlahan menjadi kelam di matamu. kita diam, terpekur dalam hening. mengeja cahaya di sudut bintang: bias merah berpendar sayu. 


"katakan apa inginmu.." rintihku di matamu. 
tak geming. ada sunyi yang tercipta. rasa asing yang selalu gagal kita maknai sebagai pagi. mendera damai hingga ke sudutnya yang paling puisi. sebait isak menyatu dengan detak nafas kesah. sesal menggumpal di juntai uraian salah yang telah aku insafi. 


"bicaralah, sayang.." ucapku di bibirmu. 
kau tahu? sunyi ini menggerus jiwa sedang senyummu menjadi kunci. diam yang kumaknai sebagai hukum atas khilafku, aku meminta. kau cahaya, bara yang membuatku gigil. kau bintang, ratu di kerajaan gelapku. 


sepi.. 
seperti puisi. 


"Za, buatkan prosa untukku..", bisikmu memecah hening. 


~Nal. 

Aksara Hitam di Pelepah Senja


senja baru saja pergi. menyisa jejak sepi di wajah puisi yang pasi senyumnya. sekuntum rindu, menjadi bait mati di dekap sunyi saat kawanan awan hendak beringsut ke utara. meminta angin menambah laju, menuju tempat ambigu merengkuh debu aurora, tempat sajak pagi bermula.


tapi angin tersesat di hutan jati. daun-daun berterbangan, melayang lalu jatuh lagi. padahal dulu sebutanmu selalu dapat terbaca di batu-batu. kini asing, terhapus hembus angin basah saat hujan jatuh di suatu masa. tersisa genang, tempat kenang berkaca. mengintip di jalusi, lalu hilang di rimbun padang ilalang.


ya. senja baru saja pergi, sedang malam begitu pandai menyimpan rahasia. menyulam gundah di sebalik bayang gemintang. demikian hening dalam sepi yang temaram. kelam, dingin seperti pedih yang semayam di jantung kata perpisahan.


kau tahu? bahkan mata hari tak sanggup lagi mengeja huruf dan angka pada luka yang menganga. bahasa bintang ikut bungkam di tengah riuh percakapan tanpa kata. memaksa angin menulis rindu dengan konte pada relung hitam pelepah senja, memaksa rindu merenda salju sebagai hangat di musim penghujan. hingga rintih menjadi titik di ujung kalimat-kalimat hampa. hilang makna hilang jiwa, membujur di tubuh puisi
: menunggu bidadari datang memahat bara di garis punggungnya.


~ Nal

June 1, 2011

Prosa: Bidadari Penafsir Hujan

Bidadari Penafsir Hujan, pada dzikirmu kau tasbihkan namaku sebagai huruf yang tertatah rapi di garis senyum awan. untukmu, kulagukan puisi mistis bersama ritmis gerimis. demikian rindu, demikian syahdu. mengalun manis di bening dua jiwa kita yang enggan terpisah: satu dalam keheningan.


pucuk-pucuk ilalang melambai, sapa langit, biru. baris awan mengirim hujan. dalam hening. dalam sepi, yang sunyi di sela degup hari. membasah, resap di nadi. jadi darah, aliri segenap raga. yaitu detak pagi yang gelisah sedang gerimis mengurai detiknya. daun-daun gugur, tanah menyambutnya. hujan jatuh satu-satu, sebagai rindu yang menitik, tiris dari dahan tinggi.

kau yang menafsirkan hujan sebagai puisi. sedang langit mahfum, lalu menyebutmu penterjemah gerimis. rintik sajak-sajak hujan menitis dari gemulai jemarimu, menjadi gurat di batu, menjadi kisah rindu yang hampir saja usai. jadi hening. dalam diam. bibir-bibir terkatup. lisan tak mampu lagi mengucap. bungkam. tak ada lagi kalam. syair hilang kata. tersisa aksara tanpa tanda baca. kalimat-kalimat hampa yang pudar diusap basah. gubah bait rindu jadi kumpulan kata tanpa kapital di awalnya. tanpa titik di akhirnya.

ya. hujan adalah sajak di pepucuk jemarimu, namun puisi sudah mati. ada jejak-jejak kata berserak di tepinya. lalu bintang datang sebagai pengingat. membawa berita gembira. mengusir resah. menghardik gelisah di lipatan jiwa. bahwa kata adalah abadi, sedang hujan tak pernah ingkar janji. menghadiahimu pelangi, sebagai untaian sepi, dalam kegelapan di wajah semesta: kegelapan yang bercahaya.

"bahwa hujan akan selalu memberi damai saat kemarau melanda jiwa.." lirih bisikmu mengucap janji.

2011
Bait Rindu Lelaki Sepi
ZAIN AL AHMAD

April 27, 2011

RINDU SENJA TADI | MINI PROSA - BAIT RINDU LELAKI SEPI

matahari terluka wajahnya. lidah api menjuntai-juntai jatuh ke bumi. gerah. merah tanah batu. terkapar. gelepar rasa di dada. riuh suara-suara, di hati di jiwa. sahut-menyahut seperti gema di gunung karang. namamu namamu, tersebut namamu. berulang-ulang. diulang-ulang. seperti mantra. seperti do'a. memanjati langit jiwa. tanpa tangga. tanpa tali temali. dipeluk bidadari, didekap malaikat bersayap putih. melayang-layang, henti laju logika. luahan rasa menjadi raja. menggenangi sampai leher. tenggelam. larut. lena. tinggalkan bekas lebam. semakin dalam. semakin kelam. hitam. menatah jejak jelaga di nadi kiri. terisis. tercabik. koyak, lalu pasi. akh! jiwa merenggang. gelisah. resah. aku? sekarat.

2011
ZAIN AL AHMAD

MEMBEKU DI SUDUT MADU SENYUMMU | MINI PROSA - BAIT RINDU LELAKI SEPI

hutan jati mengakar di dada. menguning daunnya jatuh satu-satu. menjadi tanah menjadi lumpur. cacat hitam di wajah bumi. bikin resah gegunung batu. retak dipecah garang mentari. lepuh. kerontang menunggu salju. sampai ngilu sampai linu. tenggelam di telaga peluh, di kaki waktu yang menggerus rindu tersia. berserak di tanah berdebu. merubah merah menjadi nanah. pasi. rekah nalar berhenti. mati. tercekat di akhir puisi yang tak pernah selesai kutulis. sajak sepi yang dingin hurufnya. bikin gigil bikin ngeri. rerintih sunyi di ujung gelisah. tanpa izin merobek selaput pelangi. pudar. buyar. merah kuning hijau: menjelma hitam, kelam. mencekam. seperti malam saat maut tiba di tepi ranjangmu. seperti subuh saat langit runtuh seketika. layuh. kaki-kaki lumpuh. sedang sesayapku perlahan rapuh. membeku di sudut madu senyummu.

2011
ZAIN AL AHMAD

March 24, 2011

Tunggu Aku di Pintu Surgamu

.
HUJAN menahanku di sini. Kertas kerja bersampul merah menumpuk di atas meja, sedang senyummu menari di pelupuk mata. Ya, hujan selalu mampu petakan sosokmu pada rinainya yang menjelma tirai dari kaca jendela. Ribu kenang tentangmu menjelma jelaga di hati.

Pun senja menjelang. Pada luruh mentari di ufuk barat negeri, rapuh jiwa melayuh di genang duka. Nyala yang dulu membara kini redup menjadi abu. Lepuh bersama biduk yang karam. Biduk yang pernah kau dan aku namakan: kita.

Tapi senja hampir usai, para pekerja berangsur pulang. Tidak untukku. Berulang kucari hingga ke relung hati. Berharap menemu alasan yang bukan tentangmu. Walau kutahu, itu tak mungkin.

Kemana aku pulang? jika kau lautku sedang aku sungai yang hendak bermuara
Kemana aku pulang? jika kau rumahku sedang kau pergi tak mungkin kembali.

Dulu pernah ada satu bintang. Seperti kejora bagi pelaut. Penunjuk arah bagi yang sesat. Kini pendar cahayanya tak terlihat lagi. Langit gelap menggelung hitam. Menghimpit sendiriku tanpa kau di sisi. Bintang itu kamu, sedang aku pelaut yang tersesat.

Sayang, malam ini perlihatkan padaku di langit mana tempatmu berdiam.
Tunggu aku di pintu surgamu.

Tolitoli, Maret 2011

March 4, 2011

Maaf, Kau Terlambat [Telah Padam Rinduku]

: gadis manis dari Bali

DULU pernah ada rindu. Rindu yang selalu membara nyala, terangi ruang pengap keterpisahan. Mengisi hampa hati hingga ke sumsum tulang darah. Rerindu yang lama tak kau tengok lagi. Teronggok berdebu di sudut hati yang berjelaga.

Aku terpaksa meringkuk sekian lama. Berjuang sendiri menyeret langkah serupa tubuh tanpa diri. Lalu rindu merasuki empedu. Pecah berserak cemar darah di nadi. Sendi-sendi belulang lunglai layuh kernanya.

Kau tahu, aku tidak pernah mau berlama-lama dalam kubang biru yang tak pasti. Sementara kau lena dalam pelukan malam. Menari-nari di atas rerindu yang kuberi. Pun kau tahu, rasa tidak pernah menjadi penjara bagiku. Atas nama cinta sekalipun. Hati yang kupinjamkan kemarin kini 'tlah kuambil kembali dan 'tlah pula kuberikan kepada yang lain.

February 14, 2011

Schatzi, Maafkan Aku

BILA langit enggan tersenyum maka malamku pasi, gelapnya memekat sepekat ruang yang tercipta saat gegurat salah tertoreh begitu dalam pada dinding sejarah kasih aku dan kamu. Tahukah? Kini ribu alasan bermain di benakku, juta dusta menggoda hendak menutup segala dosa yang tercipta; tapi hati tidak ingin berdusta. Ini aku, lelakimu yang tanpa sengaja menyakiti, bersimpuh dihadapmu meminta hatimu yang baru saja kau ambil kembali.

Jika kau ingin aku menghiba, katakan. Bila kau ingin aku memohon, bicaralah. Tapi kau memilih diam. Bahkan air mata tak sudi kau teteskan dihadapku; hanya genang kaca di sana, pun coba kau tutupi. Maki aku, tumpahkan serapahmu; luahkan saja biar meluap. Jangan diam sayang. Ambil belati, tikam aku di dada kiri bukan dengan bungkam, tidak dengan senyap. Sungguh, aku tak kuasa.

"Aku telah memaafkanmu," katamu tanpa ekspresi. Tidak cukup sayang! Sungguh, resahku tenggelam dalam genang salah yang menggenapi seluruhku. Bicaralah sayang, ungkapkan marahmu, biar tandas segenap gelisah. Kuminta api di dadamu itu, biar aku terbakar dalam kata yang tercurah, bukan hanya dengan tatapmu.

Schatzi..
Sungguh aku tak kuasa. Maafkan aku.

@sabdabumi

Gerimis di Awal Senja

LEPAS siang, mendung bergelayut. Aih gerimis mengembun di jendela. Adalah senyummu membayang di bias bening kaca basah oleh angin sejuknya; yang selalu mampu hadirkan syahdu di dinding hati.

Tahukah? angin itu pula yang membawa pulang rinai renyah tawamu hingga menggema di sini; ruang gelap yang kau tempati sejak subuh itu. Sudah kukatakan bukan? bahwa jiwaku jiwamu saling merindu bahkan bila raga telah saling mendekap.

Senja pun menua, rintikmu masih di sini. Duhai kau perempuanku, yang semalam tadi kusebut kekasih; kutegaskan, cinta untukmu telah mengaliri nadi, pun resap di setiap inchi tulang darahku.

Entah, gerimis selalu hadir tepat di saat hati ingin menggenapi sosokmu, ketika jiwa hendak membuat peta menujumu.

Schatzi..
Ada gerimis di awal senja, mengendap di udara menggenang di bumi. Pada syahdu rintiknya, kamukah?

@sabdabumi

Schatzi, Kusebut Kau : Kekasih

Rekah waktu merepih masa yang berganti, serupa dedaun yang tumbuh di pepucuk akasia; kaulah sayang, rerindu yang mengakar di hati, yang batangnya kokoh menjulang rindang, bawa sejuk bawa damai.. Ah, hadirmu adalah rekah bait cinta yang melingkupi helai demi helai lapisan jiwa, selapis demi selapis..

Tahukah? aku merindumu di sebalik malam saat bintang merah bersemu, di pelataran duha kala mentari malu merona pun ketika hari melabuh wusta di pelataran langit; rindu biru sebiru berbatuan safire yang kini melingkar di jari manisku. Aih.. biru gelap menghitam, ingatkan aku pada samudera; bahkan mentari tak kuasa menyelaminya.

Telah mahfum langit dan bumi saat tengadah dan rebahku, menjadi satu dalam semesta rindu yang kubangun dengan pepuing rasa tentangmu hingga utuh mengutuh, lalu menyublim menjadi batu dalam getar aneh yang menggerus dinding keangkuhan diri; aku, rubuh pun meremah di dekapmu..

Tahukah? kutulis kisah ini saat gemuruh di dada memanggil namamu sebisa-bisa..
Schatzi, kusebut kau: kekasih.

@sabdabumi

February 3, 2011

Kau, Bintang Merah; Semestaku


PAGI sekali mentari bangunkan aku dari mimpi-mimpi malam tentangmu. Semburat cahayanya menyelip tanpa izin menerobos masuk di tepi ranjang, ingatkan aku pada bangir indah hidungmu pun pada basah mungil bibirmu yang juga tidak kalah indah.

Aih.. ada rindu yang merambat; seperti kelinci dengan sigap aku segera berbenah, mandi dan gosok gigi kenakan kemeja merah berbahan satin yang kau hadiahkan padaku sehari dua setelah cinta memerah di langit kita.

Ahai.. sayap-sayapku terkepak kemudian melaju terburu ingin segera sampai di semestamu.

Kenakan gaun merahmu sayang, hari ini kuajak kau ke ujung utara bumi dimana aurora membentang di kaki langit. Hanya akan ada aku dan kamu; dan dengan satu siulan kita panggil turun itu gemintang merah.. aih, debu cahaya bintang itu jatuh di pipimu yang juga merona merah, bikin kau semakin manis, manis sekali..

Bermainlah sayang, hingga tawamu berderai saat menari bersama aurora sembari kita baku pegang tangan di bawah rinai pendar cahaya bintang merah kesayanganmu.

@sabdabumi

Lafadz Cinta [Bila Hati Bicara Tentang Cinta]

KEKASIHKU, begitu tinggi kau untuk dapat kugapai. Langit tempatmu berdiam sedang bumi menahan tubuhku di sini. Ramai orang meminta sepasang sayap agar dapat menujumu namun akhirnya mereka kelelahan pun berpaling darimu. Olehnya sayang, berikan aku cintamu maka jiwaku akan membumbung tinggi sekejap sampai padamu. Pun ramai orang berkata bahwa diri ini hanyalah serupa debu di hadapmu. Maka ajari aku mengenali diri lalu berikan aku cinta hingga dengan cintamu aku mencintaimu.

Aku tahu sayang, sejatinya cinta tidak mendatangi namun ia ada di dalam diri sejak garis nasib dituliskan. Serupa dawai harpa di kisi jiwa; dialah akar kesesuaian pesona jiwa yang akan berdenting sejak kali pertama menemu nada yang bernyanyi, sekali kali bukan dari pergaulan dan bujuk rayu dalam hitungan hari, minggu, bulan, tahun bahkan milenia.

Tahukah kau sayang, mereka menyebut lintasan rasa dengan nama cinta; distorsi nafsu ingin memiliki; silau pada kemolekan raga pun silau pada kepribadian yang menyenangkan. Bahkan kau mengajariku; cinta tidak seperti itu.

Lagu Cinta untuk Schatzi

CINTAKU PADAMU

CINTAKU padamu bukan cinta lelaki kemarin sore yang mendekap cinta serupa bocah dengan mainannya. Cintaku padamu adalah cinta yang melambungkan jiwa hingga menyentuh langit subuh; adalah fajar yang menyala di ujung kegelapan; adalah nyala yang bercahaya tanpa tersentuh api saat hening datang menyelimuti segala sepi.

CAHAYA CINTAKU

JIKA tiba-tiba saja kau melihat cahaya dari dalam hatimu saat malam mulai hening sedang gelapnya kian memekat. Maka tersenyumlah sayang, kerna pada gelapmu telah kutitipkan sebentuk cahaya yang menyala dan akan selalu menyala sesaat setelah aku selesai merapal do'a tentang jiwaku yang merindui jiwamu dan tentang hatiku yang mencintai hatimu.

SAAT TERAKHIR

DATANGLAH gelap, aku ingin luruh dalam dekap. Hingga sabda meresap menggurat membumi. Datanglah segera, sebentar lagi waktunya tiba, senja terahir untuk kita. Aih, padahal masih banyak; "kah?" yang menggelitik menggoda pada keagungan May Ziadah yang menitis di jiwamu.

February 2, 2011

Kisah Jingga di Akhir Petang

TIDAKLAH aku menulis puisi kecuali hanya jika sedang ingin bernyanyi - nyanyikan lagu rindu di hati - tentang cinta yang kataku telah kuberikan padamu kemarin pagi saat kita baku pegang tangan di bawah temaram bias aurora.

Dengarlah kini nyanyian rinduku, serupa kisah jingga di akhir petang saat mega-mega yang berarak perlahan pupus merahnya. Lalu duduk di sini dan jelaskan padaku mengapa setiap lekuk mega yang menggurat di langitmu selalu dapat hadirkan sendu yang kini tengah menjadi sesuatu di hatiku.

Aih, malam datang mendekap bawa gelap ke dalam terang, menambah gelap dalam gelapku, semakin gelap dan memekat. Untung saja ada kamu di sini membuat gelap menjelma cahaya.

Pun kulihat kau malu-malu di sebalik dekap gemintang merah; ialah bintang yang pendar cahaya saganya meremah di wajahmu yang kusuka itu, sedang senyummu membias indah di sudut kenang kala senja melangkah pergi.

Tahukah? pada setiap helai gelapku menjelma rindu padamu. kerna kau, kegelapan yang bercahaya.

@sabdabumi

Aurora di Dinding Hati


SUBUH merintik, hujan jatuh satu satu. walau sedikit, genangnya mampu tegaskan rindu; seperti basah sekecupan bintang di pelataran bumi. adalah dirimu sayang, bintang merah yang tengah menitisi subuh ini.

bintang merah enggan beranjak hingga menggurat di dinding malam, pun inti bumi mengkristal di sana; yang gelapnya serupa gelap bintangmu, yang gelapnya mendekap merah hingga memerah muda di langitmu, yang gelapnya menyelimuti gelapmu.

tahukah? di hatiku telah tercipta ruang,
sedang aurora menjelma di dindingnya.
tanpa permisi terselip rasa
tanpa izin, cinta tergantang

@sabdabumi

January 30, 2011

Bukan Rindu yang Itu

TERENGAH nafas yang memburu berlari mengejar makna pada isak aksara yang kau toreh. Runut kau bertutur tentang luka dan air mata, pun tentang hati yang lelah meragu. Amboi, bengisnya kepedihan menjelma bunga di lembah sukmamu. Lalu atas nama cinta kau maki rindu yang tengah berlarian bersama anak-anak waktu.

Ingatkah? kau pernah bertanya tentang bilakah rinduku padamu. Sungguh bukan rindu yang itu, yaitu rindu yang kau kira akan abadi.

Kini, dengarlah rinduku;
"serupa dahaga lelaki di sahara tandus sedang hujan hanya datang satu-satu, dia meringkuk menjilati tanah berharap menemu air pada jejak gerimis kemarin."
Tahukah? rinduku tiada berbatas, pun tiada terikat waktu. Rinduku selalu di hati bahkan saat kau-aku ada bersisian; jiwaku tetap merindui jiwamu

Sungguh, rinduku padamu bukan rindu yang itu.

@sabdabumi

Mendedah Rahasia Diammu

AKU berdiri di sebalik gelap mengawasi setiap gerik gemulai langkahmu.Tahukah? terang akan membunuhku mati kecuali jika kau lemparkan tali hingga gelapku gelapmu dapat menyatu tanpa sekat pun pembatas berupa terang yang menyengat itu.

Pernah suatu waktu menatapmu tepat di situ di mata kananmu, serupa mendaki lorong waktu yang tiba-tiba saja menghempaskan aku hingga ke dasar bayang. Ada nalar yang mati berganti rasa lalu bertumbuh entah bernama apa. Sorotnya yang sayu melesat serupa lembing lalu menancap di dada kiri; duhai, matamu puan, yang kanan itu, izinkan aku memujamu dalam diam.

January 29, 2011

Padahal Aku (masih) Sayang

ADA nafas yang berlari saat mengejar isak aksara yang kau luahkan bersama serapah yang tercipta. Runut kau bertutur tentang luka dan air mata juga tentang hati yang lelah meragu. Amboi, bengisnya kepedihan menjelma nestapa di lembah sukmamu, dan kini kau bediri dihadapku meminta pisah, ingin lepas dari rengkuh sayap cinta kita.

Kau kembalikan cincin yang kuberi sesaat sebelum janji terucap tujuh tahun lalu. Janji yang katamu kita akan sehidup semati. Baiklah, namun luluskan pintaku untuk terakhir kali. Biarkan kita baku pegang tangan sebentar, sekedar untuk mengendapkan kenang yang menggenang sembari meresapi pedihnya perpisahan.

January 28, 2011

Tentang Aku, Lelakimu

Telah kulempar sauh lalu berlabuh di pantaimu setelah lelah arung samudera luas. Kedatanganku bukan untuk menaklukkan, bukan untuk memiliki dan bukan pula untuk mengambil sesuatu darimu. Aku datang hendak membaktikan jiwa, rasa, akal dan fikiranku; untuk kau gunakan, untuk kau resapi, untuk kau pakai saat hendak membasuh segenap butuh yang kau punya.

Tahukah? bahtera yang mengantar aku ke sini telah dengan sengaja terbakar olehku, terbakar hingga menjadi abu; agar tidak ada lagi jalan untuk kembali, tidak ada lagi alasan untuk lari, tidak ada lagi kata tentang pergi, kerna kaulah kini tempat yang kusebut pulang. Peta perjalananku kuhentikan sampai di sini, ingin selama mungkin berada di sisimu sampai nanti tulang belulangku mengabu dan menyatu dengan udara yang kau hirup.

Tentang Rindu untuk Schatzi

SENJA merintik di sela jingga langit sore yang temaram, mega memerah saga bergelayutan manja di bentang langit baratku, nampak seperti tengah menyeduh sendu seakan hendak menggoda hasratku untuk mencumbui bayangmu di sini, di dalam kenang, di dalam palung hatiku. Schatzi kulafadzkan namamu, lirih terdengar desah nurani yang tergetar saat mendengar namamu disebut. Dawai rindu yang membentang di telaga sepiku tidak pernah pupus walau sedetik pun. Duhai, rindu di hatiku selalu ada serupa kegelapan yang senantiasa ada di antara bayang dan jiwa.

Betapa senyummu menawan ringkih angkuh egoku, menyesatkan lalu mengurung sukma di dalam labirin kasihmu. Kau merengkuh setiap inchi resahku ke dalam dekap sayapmu yang membekap seluruhku. Kepada langit kuteriakkan kesah rindu di dalam isak do'a yang mendedah setiap dinding sunyi selapis demi selapis. Tahukah? akulah lelaki di ruang gelapmu yang mengais pekatnya sepi saat gegurat perih membekas di dinding penjara rindu. Tahukah? kau bidadari di dalam gelapku yang ingin aku selami walau aku tahu, aku bukan Gabriel yang dapat mengusai jiwamu lalu menyebutnya milikku, bahkan kaulah sayang yang memilikiku.