May 27, 2011

Harusnya Puisi Tidak Sedingin Ini

Pukul dua dini hari, rembulan berangsur padam. Di luar angin berhenti sedang malam lembab dindingnya. Dari sebalik kaca buram petak dua kali tiga meter, aku menatap wajah pasi yang sayu parasnya. Tiada senyum di matanya. Mata itu, bisu.

"Matamu, mata puisi.." Begitu sapaku. Tapi harusnya puisi tidak sedingin ini. Barangkali rindu sudah beku. Mungkin percik api di sudut pedangnya telah menjelma salju.

Belum sempat aku menggengam tanganmu, kau berpaling. Sembunyi di sebalik gelap. Pupus tanpa bayang. Hilang. Sedang wajah pasi bermata bisu itu: aku.

Ah.. Harusnya puisi tidak sedingin ini.

2011
Bait Rindu Lelaki Sepi
ZAIN AL AHMAD

No comments:

Post a Comment