Showing posts with label amatir sastra. Show all posts
Showing posts with label amatir sastra. Show all posts

August 19, 2010

Kusemat rindu pada lindung kepak sayap Jibril (kisah cinta para bidadari)

temui aku
di ujung malam
pada lindung kepak sayap Jibril
yang sedang mengawasi

setibamu di sana
temukan satu singgasana
batu hitam di pesisir telaga merah
yang teduh airnya

diam sejenak
hingga angin menerpa wajah pasi
di bawah bayang mata senja
kurengkuh kau di bahu kirimu

erat mendekap
meretas segala rindu
lalu lenyap
serupa debu tersapu embun

@sabdabumi

July 25, 2010

Ada namamu di saku bajunya : cinta

ada cinta
jatuh di hati
tanpa permisi
dalam sekali

ada cinta
menusuk hati
terselip namamu
di saku bajunya

cinta itu
masih di situ
sampai kapan?
entah!

Tolitoli, Juli 2010

Kirim aku bunga

kirim aku bunga
agar kutahu
isi di hati

bukan lewat kata,
gestur pun kerling mata

kirimi aku bunga
walau setangkai
mawar
: hitam

Tolitoli, Juli 2010

July 24, 2010

Kuyu

mentari,
berhenti menyapa
pun embun
tak sejuk lagi

pupus harapku
: layu

... kuyu

Tolitoli, Juli 2010

July 7, 2010

Bukan cinta, cuma nafsu

pada senggal bayang
di sela nafas terengah
gejolak gendam hasrat merendam
pun rindu berserak

pada...

setiap lekuk
gerak laku

pada...

setiap desah
gelak tawa

pun...

semerbak rambut tersibak
sintal tubuh mewangi
: punya kamu
merekah getar
candai imaji
di pelupuk mata

ada ingin;
sangat.
Bersamamu
malam ini
: menyatu.

Tolitoli, Juli 2010

July 5, 2010

Gendam Rindu

Kesah perih
meringkuk
di lantai

retak,
pun rapuh
yakinku mati

riuh nalar
eja logika
buntu.

Ya, aku cemburu
gendam dendam
menggenang

dan rindu
lantang bergaduh
... aduh!

Tolitoli, Juli 2010

May 3, 2010

Bukan Kita (repost)

desah rindu berbisik
pada kesah buncah rasa
saat gelisah pecah
berserak di lantai sunyi

kutunggu kau
di sudut ruang
yang dingin
dindingnya

datanglah
temani aku
punguti remah sepi
yang tersia
dari sebuah kata
yang asing
menjauh
dari sebuah kata
yang pupus
memudar

hanya tersisa
aku/kamu
bukan lagi
: kita.

Tolitoli, April 2010

April 16, 2010

Priok Berdarah Lagi Senja Itu

Seperti perang
sisa puing berabu,
amis darah mem
bau
serta sepotong kuyu
harga diri semu
: trenyuh
 

Lalu mentari
merunduk miris
kala gerimis
senja memaki


Menjadi sayu
senja kemayu

pun layu
: lepuh.


@sabdabumi
 

*sumber gambar : detik.com

April 10, 2010

Rindu Hitam Lelaki Sepi

SELAKSA tanya gelayuti jiwa yang menyerpih di sudut gelisah saat jauhmu tak mampu lagi kujangkau dengan kata. Satu dua puisi tercipta namun tidak cukup untuk menampung rindu yang tengah meluap di cawan sunyi.

Aih terbata kueja namamu saat imaji terangkai dalam deru gelora hasrat yang memburu. Cinta dan nafsu meramu di setiap helai nafas yang kuhela di sela gairah yang mengalir semakin deras menggerus bongkah rapuh akal sehatku.

Pun malam datang lagi membawa pekat meretas cekat di palung hati. Larut aku dalam sebentuk ilusi bidadari cahaya yang mencumbui sepat di dada tepat setelah senja merangsek masuk melalui celah retak di tembok nalar yang dulu kokoh menghalau setiap rasa saat sintal bayang tubuhmu menggoda jenuhku.

Malam semakin renta, aku masih di sini meringkuk tepat di gerbang dosa menatap nyalang langit suram sembari menyapa bayangmu yang jelas tergambar di balik siluet imajinasi tabu yang kerap mendera saat senyap merengkuh sendiriku.

Duhai kekasih kini kupanggil namamu sebisa bisa berharap kau sudi singgah sebentar mengusir dahaga jiwa yang menggurat semakin dalam di dinding sepi seperti jejak air di pelataran bumi kala menitisi bebatuan cadas yang runcing ujungnya hingga hadirmu dapat mengikis habis derita ini lalu menyatu kita dalam senggama rindu hingga pagi datang kembali.

@sabdabumi

*gambar : http://plukuthuk.wordpress.com/

April 4, 2010

bila kau jauh

seperti langit
yang terpapar
awan awan putih
halangi pandang
antara aku dan bumi

saat terbangku
: rindu.

Palu, April 2010

April 3, 2010

terendam lara

seperti gunung
berselimut awan
puncaknya,
putih
: sepi.

Makassar, April 2010

March 24, 2010

Temani aku (sebuah kolaborasi)

MALAM mengendapi genang rasa di pucuk pucuk asa yang meranggas. Nanar pandang buram tak henti menggoret kesah di dinding resah saat gelisah pecah terburai di lantai sepi sepi tanpa hadirmu di sini temani sendiriku.

Bila telah kau dengar getar genta semesta cinta yang tengah mengeja keping rinduku panggil kau datang, enyahkan ragu, rengkuh saja hangatnya dan sambutlah nyanyian rindu menggeram di sela rintihan jiwa yang lepuh terbakar rindu bara kala senja meremang.

Temani aku saat sepiku dan aku pun di sepimu. Berdua retas gelisah yang pecah hibur duka rindu yang buncah kerna aku tak ingin tenggelam dalam lautan kelam dan pekat yang biasa kusebut sunyi.

@sabdabumi 
Thank's to : Maha Ratri

*gambar : http://akurefi.blogspot.com/

Di buku itu kusebut namaMu

Selembar daun jatuh ke bumi setelah lelah memberi udara yang kuhirup dengan percuma sebagai pembeda dosa tergenang agar pahala yang putih nampak jelas terlihat di relung berjelaga hitam.

Duhai kekasih, renggang waktu berganti namun kembara ego ini belum juga sampai kepada pulang supaya bersemayam di kelambu jingga yang membungkus kesahnya seperti pelangi yang membentang sembunyikan sendu di wajah langit setelah ruah tangisnya usai merinai.

Pupus sudah jejak embun pagi dalam retas waktu yang meranggas saat zaman sibuk mengeja masa.

Lihat ruam merah muda di sekujur rinduku saat gegunung lara membuncah di selasar rasa yang menggebu sebelum akhirnya padam dihembus logika seperti debur jeram yang menghantam bebatu kalbu yang sudah tidak melangit lagi.

Lalu dengar suara berbisik di buku nafasku yang berundak terbiar senyap membekap rekah angkuh sabda sang jahil yang berderet memberi sembilu di jemari sepi perih terkepal, yang berbaris menebar noktah noda semu kemunafikan, yang berbondong mendobrak dinding ringkih kerapuhan akal dan yang berarak mendesak nurani sampai jauh hingga ke tepi agar hatiku tidak lagi menjadi onggokan nista tanah batu biar hilang sesak yang terkecap pada setiap ruangnya.

Duhai kekasih, di buku itu kusebut namaMu.

Tolitoli, Maret 2010

March 9, 2010

Tiga helai cinta saat kau di sisi : Bilakah?

*1
langit tersenyum
patah reranting duka
cintaku embun
buncah rindu mentari
reguk habis sungaiku

*2
bulan bernyanyi
camar merajut rasa
cintaku bintang
berseri wajah laut
girang tawa bumiku

*3
gunung menari
senandung walet putih
cintaku bunga
danau tenang merona
rekah merah mawarku

Tolitoli, Maret 2010
bila kau di sisi

deret lima senandung kalah : Marah!

*1
gegunung goyah
gersang rumput mengering
perihku bara
dendam garang mentari
lenyap sejuk embunku

*2
rerumput rebah
hutan gunung meraung
pedihku api
riak murka samudra
deru haru badaiku

*3
gemintang redup
sayap elang melapuh
angkuhku batu
geram pilu rembulan
serpih beku awanku

*4
samudra bisu
layuh pohon meremuk
rinduku abu
retas hujan menyisik
rapuh luruh karangku

*5
petir menyambar
camar kuyup menggigil
sepiku arang
retak tanah menghitam
sekat kelam pagiku

Tolitoli, Maret 2010
saat kau menjauh

March 7, 2010

tujuh helai sepi yang terlalu

1st
laut merona
malam tanpa gemintang
satu sendiri

2nd
langit meringis
sejuta tujuh rindu
terbunuh sepi

3rd
bumi meronta
cericit camar hitam
diri tersisih

4th
mega berderet
hitam merah membiru
jiwa melapuh

5th
matahari redup
gelegar angin pilu
hati meringkih

6th
bulan terbelah
kabut ungu membebat
fikir terpental

7th
bintang menjauh
layu kembang kamboja
akal terkubur

Tolitoli, Maret 2010
sepi tanpanya

Ikut aku ke gurun tempat sepi bermain

tajamkan pedang kelewang
bawa juga tombak belati.
Itu dia
: bunuh!

Sebelum sepi membunuh
aku
kamu
: kita.

Tolitoli, Maret 2010
saat sepi semakin tak biasa

March 3, 2010

Rinduku di kolong waktu

pun aku mengingatmu

di waktu duha
saat mentari naik setombak
dan pantai belum berombak
hanya keruh busa berleha

di awal sore
kala mentari akan tenggelam
beringsut ke pelukan malam
seperti rasa segigit pare

di akhir maghrib
ketika mentari hilang seluruh
tubuh ringkih merambat luruh
hati merunduk laksana rahib

di ujung subuh
kembara mentari mencari celah
mengejar fajar bulan terbelah
usir sepi enyahkan gaduh

pun aku merindumu

di setiap waktu
seperti air menuju samudera
dari gegunung datang mendera
hendak bermuara di situ

Sayang,
kau tempat pulang segala
: hasratku.

Repost/Edited
Watampone, Maret 2010

March 1, 2010

Tepian Rindu

LANGGAM cinta mendayu terbawa hilir angin lereng bukit barat yang melantun syahdu di pucukpucuk akasia kering setelah lelah meranggas di penghujung kemarau yang panas. Celah resah terusik karenanya pun geliat gundah sontak mencabik kantung rindu yang sejak lama bertudung sepi nan kelam. Matahari tertawa girang melihat merah kulit darahku yang tengah terbakar rindu atau mungkin geli melihat laku naif lelaki nista ini.
Dia yang telah lama pergi kini wujud berhadap raga meminta cinta yang pernah dijanjikan.
Akh, desir darah menderu haru dalam rengkuh rayu menggebu saat nafas nafsu masa lalu sigap mendekap jiwa rapuh milik aku kamu, pun akal terlampau lelah menghalau buncah rasa yang meletup dashyat laksana Merapi-Merbabu yang menumpuk tabu.
"Kuingin terjun bebas di palung hatimu tanpa kasut dan parasut pun tiada tali temali. Sadar kuterjatuh tanpa dibayangi rasa takut terluka seperti dulu saat aku tinggalkanmu. Ini aku hanya ingin tenggelam di dalammu hingga tandas." Itu katamu, coba ikat aku dalam penjara cinta yang sengaja kau bangun di sela puing remuk remah hatiku.
Lalu aksara andai pamer pandai terus menggoda hasrat hingga ke batas lamun. Andai kau tak menghilang, andai kau cepat kembali, andai malam itu kau di sampingku, andai, Ukh, sudahlah hentikan saja, cukup! Bawa pulang angan itu ke asalnya, pergi hilang hingga ke tepian rindu yang tersemat di titik terjauh petala langit bumi dan kenakan padanya tujuh jubah hitam bayang malam agar tatapku tak dapat lagi menangkap sosokmu.
Merendam perih di kubangan haru,
aku tersungkur
: biar.
Tiada tempat di sini,
cinta purba
: musnah.

Pulanglah!

@sabdabumi
Watampone, Maret 2010

*gambar : http://sidiqtriw.blog.com/

February 11, 2010

Jika malam...

Kawan, duduk di sini, simpan dulu puisi itu, letakkan di rak emas berwarna jingga di sudut sana, lalu dengarkan ceritaku tentang malam yang pernah kudengar dari para tetua. Sebuah kisah tentang kidung sendu yang mendayu pun berhias kelam di bawah temaram.

Kawan, jika malam mempunyai mata maka sorotnya yang tajam sanggup menembus jiwa, beku segala yang tersapu. Matanya indah, membuat mabuk setiap insan yang menghuni.

Kawan, jika malam memiliki rambut tentu rambutnya panjang tergerai lebat dan menghitam. Wangi semerbak yang menyeruak saat ia tersibak senantiasa menyesatkan pemujanya seperti belantara rindu yang dipenuhi ribu perdu menggunung.

Lalu jika malam berjenis kelamin, sungguh ia pasti wanita. Saat ia bersolek dan bergelayut manja di depan cermin, pun bila ia melenggok rebah di peraduannya. Setiap lekuk tubuhnya mampu merubah sepah menjadi isi, sedemikian hingga meruntuhkan tatanan keangkuhan.

Kawan, jika malam kini telah nyata di hadapmu. Lekas pulang! Gubah seribu puisi tentangnya lalu biarkan bait-bait syair sumir merekah di benakmu hingga kau terlelap dalam dekapan gaib.

Tolitoli, Februari 2010