Showing posts with label hukum dan keadilan. Show all posts
Showing posts with label hukum dan keadilan. Show all posts

February 8, 2010

Pekik, Merdeka! Sampai kapan?

Pekik, Merdeka!
penuhi jalan dan jembatan
kelewang, bambu runcing...
ditenteng di bahu

Pekik, Merdeka!
berlumur darah, air mata...
usir penjajah,
dari tanah persada

Pekik, Merdeka!
puluh tahun yang lalu
berarti mati berkalang tanah
simbol perlawanan anak negeri

kemarin,
pekik merdeka terdengar lagi
di jalan raya ibu kota
dengan spanduk dan toa

kemarin,
pekik merdeka terdengar lagi
di jembatan semanggi
ada darah pun air mata

kemarin,
pekik merdeka terdengar lagi
kutang pelacur simbol perjuangan
melawan fitnah dan keserakahan

Pekik, Merdeka! Sampai kapan?

Tolitoli, Februari 2010

December 16, 2009

Bila Century Gagahi Pertiwi

Seringai mentari membakar pertiwi, hembus angin hawa panas bawa erang budak-budak kehidupan. Geletar pecut meretas darah di punggung, paksa mereka penuhi nafsu serakah. Sedemikian hingga diri terlupa, diri yang telah tergadai di warung reot ujung jalan dengan harga yang sangat murah. Tidak cukup jika ingin ditukar dengan sehisap rokok kemuliaan.


Senja pun mulai menua, mengarak megamega jingga memerah. Rekah bongkah marah meleleh kotori relung hitam hati, menyusup sampai menyentuh bagian terdalam. Meranggas nurani jatuh satusatu ke tanah kering berdebu.


Pertiwi renta meringis perih kerontang, jauh teronggok di sudut semesta. Keremajaannya dilucuti oleh perilaku bejat penghuninya. Kecurangan yang paling keji dipertontonan, menari lihai bak pelacur jalanan. Inikah yang mereka sebut dengan peradaban?


Pertiwi teriris saat datang kisah angkara terbaru. Cerita tentang manusia-manusia serakah. Trilyun rupiah raib menghilang. Konon katanya digasak maling Century. Akh, pertiwi terengah lelah. Dua kakinya mengangkang gemetar. Birahi serakah anak bangsa semakin beringas, gagahi pertiwi, kangkangi ibunya sendiri.

Pertiwiku menangis namun belum lagi terdengar.


Tolitoli, Desember 2009


March 30, 2009

Pelacur Keadilan

celingak celinguk tonggakkan kepala
petantang petenteng busungkan dada
bersolek molek pasang wibawa
ramah senyumnya busuk hatinya

menabur harapan layaknya malaikat
lihat si bodoh ia mendekat
tajam matanya menatap peluang
hingga si susah luka tergenang

terbahak senang saat menang
jual diri demi uang
untung rugi dalam kenang
peduli setan asal senang

Kendari, MARET 2009

March 18, 2009

Koruptor Masih Terbahak

Bangsaku masih sekarat. Belum lagi menunjukkan kemajuan yang berarti. Kemiskinan terlihat di sana sini, jauh dari kesejahteraan. Korupsi tetap menggurita dan koruptor terbahak di sudut-sudut ruang kantor yang megah.

Waktunya merubah paradigma, untuk mereka yang memegang palu dan bertoga.Jadilah wakil rakyat di ruang pegadilan. Wakili suara rakyat yang terabaikan dan yang tak terdengar. Agar pengadilan berhati nurani. Jangan berhenti pada teks undang-undang hanya demi menegakkan kepastian hukum lalu mengabaikan kebenaran materiil dan keadilan.

Kini saatnya pengadilan tidak boleh lagi bersikap netral positivisme, berpihaklah pada kebenaran dan keadilan. Muhammad, SAW pernah berkata, keadilan itu tidak bisa engkau lihat namun dapat kau rasakan apabila terjadi ketidakadilan.

Indonesia 1 Januari 2009, bangkitlah para pengusung hukum progresif karena hukum bukanlah sekedar pasal-pasal dalam undang-undang namun ada di balik toga para hakim. Jangan pisahkan hukum dari manusia dan kemanusiaannya. Hukum untuk kesejahteraan rakyat.

Tutup kepala koruptor-koruptor itu dan arahkan laras dan moncong bedilmu tepat di dada kirinya. Dada yang didalamnya telah usang dipenuhi nanah keserakahan, menghisap habis darah rakyat dan bangsamu.

Demi Keadilan dan Ketuhanan Yang Maha Esa, sekali berarti sudah itu mati.