Showing posts with label tentang cinta. Show all posts
Showing posts with label tentang cinta. Show all posts

August 3, 2010

Nak, dengarkan sabdaku!

Diqie Ahmad
Bersiap Nak engkau akan datang di dunia yang keras dimana tidak ada tempat bagi orang yang cengeng.
Menangislah Nak tapi hanya untuk sesuatu yang layak ditangisi.

Kelahiranmu disertai dengan kelahiran musuh terbesarmu yaitu dirimu sendiri. Hati-hati dengan angan-anganmu engkau akan hidup di zaman yang lebih berat ketimbang zamanku berbekallah denganNya.

Jangan pernah sisakan ruang untuk kata menyerah, bila kau bercita, bercitalah dengan cita yang besar lalu berjuanglah untuk mendapatkannya.

Ingat nak, hidup bukan sekedar apa yang dapat engkau lihat dengan matamu, periksa selalu penglihatanmu karena kebinasaan sering kali datang padamu dengan wajah yang teramat manis.

Jangan takut pada manusia anakku satu-satunya manusia yang perlu kau takuti hanyalah dirimu sendiri.

Takutlah kepada Allah azza wa jalla.

March 22, 2010

Mungkin Nanti Setelah Mati


Demi pucukpucuk senja memupus

Dan malam yang memberangus
di sela resah mendengus

Jemari cinta terlanjur erat mencengkram
dua hati lunglai menggeram
lalu karam di dasar perih
kudengar bisikmu merintih

Akh, leluka
setetes darah duka
Aku kamu
tidak untuk menyatu

Namun,

ada jejak rindu abadi
seperti goretan sepi
terpajang di dinding sunyi
entah kapan menepi.

mungkin nanti
setelah mati.

Tolitoli, Maret 2010

March 20, 2010

Petuah Cinta untuk Asshiddiqie

SEBULAN sudah kau menghirup udara bumi, menggapai langitnya dengan tangan mungilmu sejak tangis pertama yang membahana saat tubuhmu masih berlumuran darah dari rahim bunda. Kini kutuliskan untukmu sabda bumi yang pernah tertuang di kisi jiwa tentang perjalanan seorang lelaki.

Saat ini anakku kau ada di dalam bahtera kami, bunda dan papi. Kau akan berlayar di samudera yang telah kami arungi sejak bersatu dalam cinta. Ketahuilah, kau cahaya di bahtera ini, pelipur lara tiada tara tempat harap dan asa tersemat meramu satu dalam sebutan nama yang kami berikan padamu. Bahtera ini sayang berlayar ke arah matahari tenggelam sampai nanti kau melihat daratan yang kau sukai untuk disinggahi jika tiba masanya kau mengembara.

Dan di tengah pengembaraanmu di lintasanan waktu, akan tiba suatu masa dimana langit menunjukkan padamu keberadaan daratan. Jangan takut, aku akan menemanimu sekedar memperkenalkan rimba yang mewarna-warni di belantaranya. Kita pun akan berjalan menuju arah matahari terbenam, melewati apa saja yang menjadi aral melintang di setapaknya, lembah pun gunung bukan halangan, akan terus berjalan hingga kau menemukan sebuah sungai yang harus kau susur sendiri.

Susuri sungaimu hingga ke samudera. Ingat! Temukan samuderamu sendiri dan tetap berjalan di sisi sungaimu walau bebatuan terkadang melukai telapak kaki. Usah kau berlama-lama di tengah hingga hanyut tak lagi menjejak tanah, tetaplah di tepi menapaki bumi.

Perjalanan itu sayang akan terjal dan berliku sungguh bukan hal yang mudah. Bila kau mulai jenuh, dan hijau hutan di sekitar berhasil menggodamu lalu kau tinggalkan sungai itu, maka mengembaralah sebentar sekedar memenuhi rasa ingin tahumu namun ketahuilah sayang hanya sungai itu yang pasti menghantarkanmu ke samudera yang kau cari. Bangkitlah bila kau jatuh, kembalilah bila kau sesat jangan pernah putus asa. Terus berjalanan ke arah matahari terbenam hingga kau temukan sungaimu lagi.

Ananda sayang,

Kau akan bertemu dengan wanita yang juga tengah menyusuri sungainya. Mungkin sungai kalian berhujung di samudera yang sama atau tidak sama sekali. Namun yakinlah akan ada satu untukmu kerna sungai yang kau susuri itu sungguh mempunyai pasangan yang menuju samudera yang sama dengan yang kau tuju dan ketahuilah pasangan sungaimu itu juga tengah disusuri oleh pasangan jiwamu.

Bila telah kau temui pasangan jiwamu, saling berkasih sayanglah kalian dalam cinta hingga cinta bermerah muda di hatimu hatinya. Hormati dia dengan seluruh harga dirimu dan ajari dia dengan segala yang kau tahu tapi jangan minta dia agar ikut menyusuri sungai yang kau susuri lalu memaksanya untuk meninggalkan sungainya.

Biarkan dia dengan sungainya namun tetaplah mengalir di bawah langit cinta yang sama, menuju samudera yang sama, kerna cinta bukan tentang mempertemukan persamaan namun untuk mempersatukan perbedaan hingga tibalah kalian di samudera yang diperjanjikan.

Bangun bahtera kalian di pantainya lalu berlayarlah ke arah matahari terbenam. Restu kami untukmu semoga kau menjadi lelaki yang pantas menyandang nama lelaki.

@sabdabumi

March 10, 2010

Elegi Cinta Seorang Psikopat

Entah sudah kali keberapa aku berdiri di rindang dedaun batang Akasia tua yang tumbuh di seberang jalan sebelah selatan berandamu ini hanya untuk melihat wajahmu saat membuka jendela di pagi hari tanpa makeup polos apa adanya. Selalu begitu saat rindu membuncah pada setiap helai jiwa selapis demi selapis hingga seluruh.

Seperti pagi ini, daun kering yang kupijak masih basah oleh hujan semalam pun bau lembab aspal menyengat lembut di hidungku yang baru saja ditetesi embun yang jatuh dari ranting berdaun satu menjulur di atas kepalaku. Aku di sini sejak gema azan subuh menghilang dari udara yang kuhirup dan dibawa angin entah kemana. Tidak seperti kemarin, sengaja aku datang pagi pagi dengan ransel di punggung berisi kamera digital bekas yang kubeli dari seorang teman dua hari yang lalu berharap kau lekas nampak di diafraghma kotak gambar yang kini tengah menutupi wajahku itu.

Akh, semakin tersenggal nafasku pun detak jantung dan ketuk jam di tangan kananku yang gemetar jelas terdengar. Lalu lalang kendaraan berseliweran namun tak mampu mengusik suara hening di kepala. Ada setetes keringat dari sudut kening yang terbiar enggan kuseka khawatir kehilangan detik hadirmu.

Setelah hening kini telingaku mendengar suara musik semacam simphony Mozart yang tengah berkolaborasi dengan Bethoveen indah melagu dan tepat di chorus ke dua kau muncul di jendela itu. Aih wajahmu polos tepat seperti yang kulihat di setiap mimpi malamku yang tak pernah kulewati dengan tidur pun lembut angin membuat helai rambutmu yang tergerai melambai jelita hampir seperti cantiknya sawah hijau yang membentang di kaki gunung Bantimurung yang pernah kulihat saat melintasi selatan Sulawesi namun ini lebih indah lagi. Telunjukku lincah mengambil gambarmu seperti Slash Snakepit yang garang menggelitik perut gitarnya saat mengiringi Axl Rose bernyanyi sampai akhirnya kau menatap mataku yang bersembunyi di balik lensa dan mengetahui keberadaanku. Tidak kudapati ketakutan sedikit pun di tatapmu malah ada sungging senyum tipis di bibirmu. Aku tergetar, keringat semakin deras mengucur dan tulang sendi kaki kaki hampir tak mampu lagi menopangku untuk berdiri tegak. Tak kuasa berlama-lama di sini hanya ingin berlari sekencangnya, berlari mengejar angin terus berlari menuju rumah.

Nafas masih memburu seperti badai yang belum mereda dan nanar mataku mencari kabel USB terburu menyalakan laptop serta mesin pencetak selekasnya untuk menyambungkan kamera ini lalu mencetak gambarmu.

Sejam kemudian dindingku penuh dengan gambar. Ada gambar wajahmu dengan senyum yang menatap tepat di mataku. Wajah yang selalu menghiasi malamku dalam rindu yang terlalu dan kini wajah itu akan menjadi saksi seluruh mimpi tujuan hidupku sejak tiga tahun terakhir ini mewujud. Mimpi yang tidak akan pernah kau pahami. Aku hanya ingin mati dihadapmu. Tahukah kau?

Dan dengarlah lirih kubisikkan namamu. Selamat tinggal Safira.

Tolitoli, Maret 2010

February 14, 2010

Bukan Sajak Pilu

sajak merah semu
bukan cerita pilu
pupus sudah jejak sedih
usai sudah musim perih

kisah lelaki di dalam rahim
dari sulbi terpancar takzim
menuju telur yang dibuahi
awal kejadian hamba Ilahi

banyak cinta menunggu
ribu rasa tergugu
telah terkumpul jerih
untuk yang terkasih

menyebutMu Ya Karim
syukur kami Ya Rahim
atas pinta yang terijabahi
saat tanah rapat di dahi

Tolitoli, Februari 2010

February 3, 2010

kusebut kau... : cinta!

di lembah aksara
kulafadzkan namamu
mengeja makna terbata
hingga penuh seluruh

lalu,

kusebut kau...
: cinta!

yang menerangi langit malam
dan tetap terang walau tak tersentuh api.
dari jauh,
kukagumi bias sinar indahmu

namun kini kau redup
tatapmu teduh sayu memohon
ada harap kutemukan di sana.

Namun,

dengan apa ku menolongmu
sedang dua tanganmu tengah menjunjung pelangi
t
urunkanlah dulu,
raih kasihku hingga hujan datang lagi

dan waktu hendak menampakkan egonya
pisahkan ragaraga merindu
memaksa angan tuk melukis bayangan
melata perlahan di titian hening

pada angin,
telah kutitipkan pesanku
bersama doadoa di sela isak dan tawa
raih sabdaku saat ia sampai padamu

pun masa indah berlalu
derai tawa musnah sudah
ada rindu yang terlalu
ada sesal yang mendesah

dengarkan lirih suaraku
di antara derit kaki pekerja malam yang terseret pulang
saat deret mata manusia mulai terlelap
memanggilmu lantang berharap hadirmu hiasi sepi.

tapi kau tak datang sayang,
hanya mengutus sebaris sajak perih pilu
memerah rasa hingga kata merekah mesra
bingkai kenang tentangmu dalam puisi mendayu

lalu,

kusebut kau...
: cinta!

Tolitoli, Februari 2010

January 29, 2010

Petuah Cinta

aku bicara padamu dalam bahasa puisi
lewat kata yang tersusun rapi berima
pada untaian makna yang penuh berisi
di sela remah petuah yang lima

sudah aku ingatkan untuk menjaga hati
tentang adanya ada yang pasti sirna
layaknya debu yang menempel di tepi
lenyap musnah saat hujan menerpa

masih juga kau harap akan abadi
cinta yang kau simpan di peti asa
yang kau kira akan terbawa sampai mati
hingga terbahak angkuh ego tertawa

usah jua kau kulum rapat imaji
mengunci jiwa dalam pengap nestapa
habiskan hari muntahkan seribu caci
cukup sadari kisah diri yang fana

aku bicara padamu dalam bahasa puisi
lewat kata yang tersusun rapi berima
mulai sekarang menghisab diri
penuhi hari dengan cinta sesama

@sabdabumi

gambar :  http://angkuwago.blogspot.com/

May 20, 2009

kaku pilu

basuh luka perih
tepis duka sedih
tetes tangis meringis
saat hati teriris

pupus siluet kasih
pudar asa berdalih
bayang dendam membersit
debat dusta sengit

saat jauh
jiwa rapuh
lidah kelu
kaku pilu

Kendari, MEY 2009

March 30, 2009

Pamit (untukmu ibu)

duhai dikau sebab aku ada
dengan cintamu ku kenal cintaNya
lewat sayangmu ku gapai dua dunia
engkaulah sebab berkah ridhaNya

duhai dikau pahlawan hidupku
terlihat jelas gurat lelah di wajahmu
jejak peluh dan air mata terukir di senyummu
kau gadaikan bahagiamu untuk aku anakmu

duhai dikau malaikat pelindung
erat pelukmu tempatku berlindung
rangkum aku dengan segenap kasihmu
kaulah sandaran saat tertatihku

duhai dikau dua mataku
ini aku bersimpuh di depanmu
mohon restu dan senyum ridhamu
berkati jalanku yang mungkin berliku

Kata yang paling indah di bibir umat manusia adalah kata 'Ibu', dan panggilan paling indah adalah 'Ibuku'. Ini adalah kata penuh harapan dan cinta, kata manis dan baik yang keluar dari kedalaman hati. (Khalil Gibran)

Dipersembahkan untuk anak-anak panah yang akan melesat dari busurnya, menembus langit pelaminan di altar suci pernikahan berkah. Semoga kalian berbahagia dan semoga Allah menyatukan yang berserakan di antara kalian. Amien.

Kendari, Maret 2009

March 24, 2009

Tentangmu (biru II)

sejenak sandarkan lelahku
berteduh di bawah naungan kasih
kudapati diri terlena dalam damai
saat lelap dalam dekapmu

indah matamu tatapku sendu
kutemukan cinta di sana
deritamu tersimpan rapi di sudutnya
ketabahanmu begitu agung di hadapku

hadirmu penuh arti
tidak sekedar kata tak berarti
'tlah menjadi prasasti di sanubari
kaulah sang ratu di kerajaan hati


dedicate to: Nur Syafariati Ahmad, the light on my journey

Nelangsa (biru I)

kala rindu mendera sukma
hati merintih melengking menghiba
sepi gerogoti nurani
aku terkapar berbungkus sunyi

sendiri aku susuri lorong waktu
tertatih seret tubuh tanpa diri
sekeranjang duka kubawa berlari
menembus pekatnya selimut rindu

nyanyian malam rasuki jiwa
kencana hening bawa hati ke gerbang lamun
tentang kita, kamu dan aku
tentang kisah, rasa dan asa


Palu, DESEMBER 1999

Fana (misteri cinta IV)

dia seperti embun
sejukkan pagi
namun hanya sesaat saja

dia datang bawa damai
rengkuh jiwa dalam dekapan
namun hanya sesaat saja

tidak pernah abadi
hanya untuk sesaat saja


Palu, MEY 2002

Bukan Permainan (misteri cinta III)

dia bukan permainan tersia
dialah anugrah sang pencipta
dari yang suci untuk hati suci
suci dari noda pamrih rendah

adalah dia bersemayam di balik bayang
balik bayang kasih dan sayang
beri kedamaian bagi jiwa yang tenang
selimuti dua hati beda dengan keindahan

dia bukanlah permainan
sarat akan arti kehidupan
sekali kali bukanlah permainan

Palu, MEY 2002

Wajah yang Lain (misteri cinta II)

dialah kekuatan sekaligus kelemahan
laksana bara, hangatkan jiwa
hingga mampu membakarnya jadi debu
dia ada dalam rindu dan benci

dia mempunyai dua sisi
sisimu sisinya,
gelap dan terang
di sisi mana dia berdiri

di dalamnya terletak bahagia dan sengsara
korban dan juang selalu menyertainya
dia hanya ada di hati bersih
beri kekuatan untuk selalu memberi

Palu, APRIL 2002

Dua Wajah (misteri cinta I)

saat dia menyapa hati
membalut jiwa dengan pesona
merangkum sukma, erat
bawa terbang asa ke nirwana

saat dia menyapa hati
mencabik jiwa
merobek sukma
hempaskan asa ke bumi

dua wajahnya
penuh misteri
misteri yang harus terjawab

Palu, APRIL 2002