February 26, 2012

TIBA-TIBA AKU INGIN MENULIS BEBERAPA BAB NOVEL TAPI HANYA SEPENGGAL SAJAK TENTANGMU YANG ADA DI KEPALAKU

SELAMAT siang, Mei. Semoga damai melingkupi keseharianmu dan mereka yang engkau sayangi.

Ini hari ke sembilan belas pada penghujan Januari milenium duabelas. Tepat tiga bulan sejak kita berpisah di peron tujuh stasiun merah waktu itu.

Dan siang ini, kotaku hitam langitnya. Di luar hujan. Sejak pagi tadi. Padahal matahari harusnya sudah tergelincir ke barat. Awan mendung. Matahari sembunyi. Satu persatu kata berlarian. Perlahan menjadi kalimat. Aku berencana, jika setiap paragrafnya sudah selesai. Akan kujadikan sebentuk persembahan buatmu. Tanda terimakasih sederhana bagi jiwa agung seperti jiwamu.

Tapi barangkali sudah terlambat untuk sebuah pengakuan. Waktu setahun terlalu singkat bagiku saat harus mengeja rasa yang tercipta dalam detik per detik persahabatan kita. Layaknya pecundang, keraguan selalu datang setiap kali hati ingin menyatakan diri. Lalu saat kau tidak lagi di sini. Sesuatu terjadi. Aku menyebutnya rindu.

Kau jahat Mei. Aku baru menerima pesanmu siang ini. Sepenggal prosa yang kau tulis sehari sebelum kau pergi. "Surat ini disampaikan kepada anda atas waktu yang ditentukan oleh pengirim," kata petugas pengantar pesan berseragam itu. Kini semua jelas bagiku. Apa arti air mata yang tumpah di sudut senyummu terakhir kali.

"Bait-bait sajak pilu mengalun syahdu. Lengang sunyiku mendekap rindu. Pada setiap baris sajak itu, kutulis namamu."

Tunggu aku, Mei. Besok sore pukul lima aku datang kepadamu. Menagih tempat yang kau janjikan untukku.

"Cukup dadamu saja buat hatiku, dan sayapku untuk kebebasanmu. Apa yang tertidur di jiwamu kelak bangun dari mulutku, ke surga menuju."*

With Love,

Gabriel Al Ghifari

[Send to: meilan_ningrum@gmail.com]

_____________

Kutipan: *Pablo Neruda

--Nal

December 10, 2011

Alir Rindu


rindu mengalir deras pagi ini
mencipta jeram di hati
selaksa jiwa yang hujam
karam di pelupuk temaram

rindu mengalir deras pagi ini
sedang pilu sudah selesai di sepakati
kerap tersulam di atas tilam
pecah pinta di punggung pualam

rindu mengalir deras pagi ini
sebelum engkau memintanya untuk mati

~ Nal

Bertanya Kepada Maut


percik-percik hening memukau jejiwa. bau dupa. aroma melati dan kapur barus bergantian memenuhi ruang udara. dingin mengendap di lipatan rasa yang perlahan pasi. menelisik hingga ke sum-sum tulang darah yang bertahap jadi nanah.


inikah rindu itu? bayang malam pada jalan basah di ujung lorong yang menyempit. debar jantung semakin sayup. getir melipir remah asa yang tersisa. duh!


o diri yang hina. kepada maut kusampaikan salammu. "untuk selembar jiwa ini. masihkah engkau memberi tangguh?" tanyaku merepih lirih di nadi.


~ Nal

Buatkan Prosa Untukku, Za


senja itu. gerimis berlarian. satu-satu bulir bening mengembun seperti tempias hujan di kaca jendela. perlahan menjadi kelam di matamu. kita diam, terpekur dalam hening. mengeja cahaya di sudut bintang: bias merah berpendar sayu. 


"katakan apa inginmu.." rintihku di matamu. 
tak geming. ada sunyi yang tercipta. rasa asing yang selalu gagal kita maknai sebagai pagi. mendera damai hingga ke sudutnya yang paling puisi. sebait isak menyatu dengan detak nafas kesah. sesal menggumpal di juntai uraian salah yang telah aku insafi. 


"bicaralah, sayang.." ucapku di bibirmu. 
kau tahu? sunyi ini menggerus jiwa sedang senyummu menjadi kunci. diam yang kumaknai sebagai hukum atas khilafku, aku meminta. kau cahaya, bara yang membuatku gigil. kau bintang, ratu di kerajaan gelapku. 


sepi.. 
seperti puisi. 


"Za, buatkan prosa untukku..", bisikmu memecah hening. 


~Nal. 

Ketika Sajak Pagi Terluka


ada duri di jemari embun
menetes jatuh tanpa sengaja
terselip di helaian rindu yang rimbun
menterjemahkan pagi sebagai luka


"siang sebentar lagi datang, tapi pagi enggan tersenyum.." 
bisikmu menyingkap cerita.


maka ketika sajak pagi terluka
kisah ini tak sanggup lagi kulanjutkan
menemu akhir, menemu titik di genang duka
sebelum koyak terlalu perih untuk menjadi kenangan


: demi setapak merah yang masih jauh dari usai
seisak maaf merecik haru, lebam biru rinduku.


~ Nal

Aksara Hitam di Pelepah Senja


senja baru saja pergi. menyisa jejak sepi di wajah puisi yang pasi senyumnya. sekuntum rindu, menjadi bait mati di dekap sunyi saat kawanan awan hendak beringsut ke utara. meminta angin menambah laju, menuju tempat ambigu merengkuh debu aurora, tempat sajak pagi bermula.


tapi angin tersesat di hutan jati. daun-daun berterbangan, melayang lalu jatuh lagi. padahal dulu sebutanmu selalu dapat terbaca di batu-batu. kini asing, terhapus hembus angin basah saat hujan jatuh di suatu masa. tersisa genang, tempat kenang berkaca. mengintip di jalusi, lalu hilang di rimbun padang ilalang.


ya. senja baru saja pergi, sedang malam begitu pandai menyimpan rahasia. menyulam gundah di sebalik bayang gemintang. demikian hening dalam sepi yang temaram. kelam, dingin seperti pedih yang semayam di jantung kata perpisahan.


kau tahu? bahkan mata hari tak sanggup lagi mengeja huruf dan angka pada luka yang menganga. bahasa bintang ikut bungkam di tengah riuh percakapan tanpa kata. memaksa angin menulis rindu dengan konte pada relung hitam pelepah senja, memaksa rindu merenda salju sebagai hangat di musim penghujan. hingga rintih menjadi titik di ujung kalimat-kalimat hampa. hilang makna hilang jiwa, membujur di tubuh puisi
: menunggu bidadari datang memahat bara di garis punggungnya.


~ Nal

June 3, 2011

Suatu Siang di Ruang Sidang Yang Mulia [2]

Palu diketuk tiga kali. "Sidang dibuka dan dinyatakan tertutup untuk umum!" tegas Yang Mulia membuka sidang. Petugas pun menutup pintu dan jendela. Pengunjung dipersilahkan keluar. Ada yang bertanya kenapa. "Ini sidang perkara asusila.." jawab penjaga seadanya.

Ruang hijau itu menjadi lengang. Seorang lelaki muda duduk di tengah, tepat di depan Yang Mulia. Nampak pasi wajahnya. Barangkali mulai jenuh setelah mendekam beberapa minggu di tahanan. Dingin jeruji hampir saja merenggut kemanusiaannya.

"Benar, saudara melakukan itu pada Bunga?" cecar Jaksa bertanya.
"Itu semua tidak benar Pak. Saya tidak pernah bersetubuh dengan Bunga. Sumpah demi Allah Pak." jawabnya terbata.
"Saudara sudah dengar kesaksian Bunga kemarin bukan?"
"Dia bohong Pak. Saya tidak akan mengakui apa yang tidak saya lakukan.."
"Lalu apa yang saudara lakukan?"
"Saya mencintai dia Pak. Bahkan lebih dari istri saya sendiri. Saya ingin menikah dengannya. Jika sebab itu saya harus dipenjara, biarlah!"
"Saudara tahu Bunga belum layak untuk dikawin?"
"Perempuan kelas I SMK seperti Bunga di kampung saya sudah banyak yang kawin koq Pak!"

Ruang sidang kembali lengang. Jaksa sibuk memeriksa lembar demi lembar berkas merah di depannya. "Panggil Bunga Masuk!" Ujar Yang Mulia memberi perintah.

"Bunga, pengakuan saudara dibantah oleh terdakwa. Apa tanggapan saudara?"
"Dia bohong Yang Mulia. Saya disetubuhi lima kali olehnya."
"Ingat Bunga, saudara di bawah sumpah.."
"Iya. Yang Mulia, saya ingat.."
"Saudara sudah baca hasil visum et repertum?"
Bunga tersenyum pasi, sekejap hilang kata.
"Saudara mengerti apa kesimpulan dokter pemeriksa?"
Bunga semakin gelagapan.

Hening datang lagi, nampak senyum di wajah terdakwa. Tapi bukan lagi senyum pasi. Lega menggurat tegas di garis wajahnya yang kuyu.

2011
ZAIN AL AHMAD

June 1, 2011

Prosa: Bidadari Penafsir Hujan

Bidadari Penafsir Hujan, pada dzikirmu kau tasbihkan namaku sebagai huruf yang tertatah rapi di garis senyum awan. untukmu, kulagukan puisi mistis bersama ritmis gerimis. demikian rindu, demikian syahdu. mengalun manis di bening dua jiwa kita yang enggan terpisah: satu dalam keheningan.


pucuk-pucuk ilalang melambai, sapa langit, biru. baris awan mengirim hujan. dalam hening. dalam sepi, yang sunyi di sela degup hari. membasah, resap di nadi. jadi darah, aliri segenap raga. yaitu detak pagi yang gelisah sedang gerimis mengurai detiknya. daun-daun gugur, tanah menyambutnya. hujan jatuh satu-satu, sebagai rindu yang menitik, tiris dari dahan tinggi.

kau yang menafsirkan hujan sebagai puisi. sedang langit mahfum, lalu menyebutmu penterjemah gerimis. rintik sajak-sajak hujan menitis dari gemulai jemarimu, menjadi gurat di batu, menjadi kisah rindu yang hampir saja usai. jadi hening. dalam diam. bibir-bibir terkatup. lisan tak mampu lagi mengucap. bungkam. tak ada lagi kalam. syair hilang kata. tersisa aksara tanpa tanda baca. kalimat-kalimat hampa yang pudar diusap basah. gubah bait rindu jadi kumpulan kata tanpa kapital di awalnya. tanpa titik di akhirnya.

ya. hujan adalah sajak di pepucuk jemarimu, namun puisi sudah mati. ada jejak-jejak kata berserak di tepinya. lalu bintang datang sebagai pengingat. membawa berita gembira. mengusir resah. menghardik gelisah di lipatan jiwa. bahwa kata adalah abadi, sedang hujan tak pernah ingkar janji. menghadiahimu pelangi, sebagai untaian sepi, dalam kegelapan di wajah semesta: kegelapan yang bercahaya.

"bahwa hujan akan selalu memberi damai saat kemarau melanda jiwa.." lirih bisikmu mengucap janji.

2011
Bait Rindu Lelaki Sepi
ZAIN AL AHMAD

May 27, 2011

Hikayat Kemarau

"sebab langit telah menciptakan aku sebagai kemarau, itulah mengapa aku merindu hujan. tahukah? hujan itu, kamu."

adalah kemarau: pesan rindu langit kepada batu-batu di puncak gunung, kepada tanah kering yang tertanak mentari, kepada butir pasir yang menjelma bara di garis pantai, dan kepada daun-daun yang menjadi api di hutan rimba.

yaitu pesan rindu yang membara. seperti amarah. merah. hingga sanggup membakar semesta.

ya. kemarau merindu hujan. sedang hujan tak pernah ingkar janji. bila tiba waktunya, hujan datang membawa damai. membawa kasih kepada seru sekalian alam.

Tolitoli - 2011
ZAIN AL AHMAD

Hujan Bulan Mei

hujan bulan mei, adalah gerimis miris yang membasah di tanah batu.
mencipta noktah hitam di laras mentari. wajah langit disaput lara, tertatah duka di sekujur puisi. menjadi dingin sebagai ingin. laku berubah kaku. bait-bait sepi merenggang nyawa. hilang makna. hilang masa. teronggok di tepi semesta.

hujan bulan mei, adalah anak kegelapan yang mencabik malam dengan belati.
jejiwa lena di rahim gelap, tempat gelisah pecah berserak merah. ada amarah yang melengking di nadi. merobek keping hati, luruh. rubuh jadi puing, sedang tonggak do'a tak lagi kokoh berdiri.

hujan bulan mei, adalah geram dendam yang menyala di mata senja.
menatap nyalang, sepikulan api menggarang di punggung siang. hangus dibakar resah. ada gundah di sebaris awan saga, sedang bara jatuh merinai tanpa ragu. membuat lubang di jantung kelu

hujan bulan mei, adalah sajak yang tertatih mengeja subuh.
menggelung legam cahaya fajar. pendar bintang berubah layu, meranggas jatuh ke bumi sebelum sempat dibelai embun. sesat dalam bingkai syair bisu: berangsur jadi abu, kembali larut dalam kelam.

: hujan bulan mei, adalah badai yang Kau kalungkan di leherku.

Tolitoli - Mei 2011
ZAIN AL AHMAD

Keranda Puisi

Puisi terbunuh malam tadi. Tubuh ringkihnya kini membujur kaku, semayam di punggung siang. Ada biru menggurat di bibir gelisahnya. Barangkali dingin membuatnya beku, mati. Sebentar lagi jadi abu. Ia tidak ingin kau tanam, kata orang ramai bergunjing tentangnya. Puisi itu hendak satu dengan angin. Mungkin akan mendesau di berandamu kelak, sebagai melati sebagai belati. Merenggut paksa jiwamu ke nirwana. Walau kau tak ingin. Sedang puisi itu: Aku.

2011
Bait Rindu Lelaki Sepi
ZAIN AL AHMAD

Gelapku Terlalu Pekat untuk Kau Terangi: Sudah! [Elegi Labirin Cinta]

Akulah cinta dalam setiap sebutan cinta yang merekah di dada para pencari cinta. Sedang kau tidak akan pernah sampai padaku meski bila menunggangi kendara cahaya sekalipun sebelum aku berkenan hadir di setiap tetes detak darah di nadimu. Aih, simpan dulu rasa yang kau sebut dengan namaku itu. Satukan di sudut sana, tempat rasa seperti hasratmu kini, teronggok dalam gelap malamku yang panjang. Akulah yang akan mengunjungimu.

Bahkan dua mata elang yang menukik tajam tak kuasa menembus cangkang gelap semayam rindu di hati. Pun lacur rindumu telah sampai di pangkuanku dengan kendara senyap saat manusia terlelap.

Tapi katamu, kau ingin menjadi lilin demi terang yang kau bawa. Ah.. Mari sini kuberi tahu. Kau hanya akan meleleh tak berbentuk dan tetap menjadi leleh sebelum kau sempat menyala di sekitarku. Begitu cepat tanpa kau sadari bara di sekujurku sanggup luluhkan dinding peraduanmu yang terbuat dari beton baja sekalipun.

Sudah, hentikan langkahmu sebelum terlambat. Menujuku terjal dan berliku. Tidak akan sanggup kau mendaki langit sembari membenam di dasar bumi yang kelam. Sudah, tanggalkan saja dongeng cinta yang kau pungut dari sederet roman lusuh di kubangan jalan itu. Gelapku terlalu pekat untuk kau terangi: Sudah!

2010 - 2011
Bait Rindu Lelaki Sepi
ZAIN AL AHMAD

Kita

Kau mau aku tetap tersenyum, aku tahu. Lalu berkata semua akan baik- baik saja, aku mengerti. Tapi keringat deras yang mengucur dari keningmu, hapus senyumku seketika. Bara di tubuhmu pun ikut membakar jiwaku. Maaf sayang, pintamu kali ini tak mampu aku penuhi. Jiwaku rubuh bersama derita yang tengah mendera ceriamu. Ah, luruhlah di dekapku, biar kuserap segala panas berlebih yang mendekam di setiap inchi tulang darahmu itu.

: sayang, boleh kuucap tanya, akan kau sebut apa aku, jika lapuhmu membuat sekujur jiwaku ikut rubuh bersamamu?

Sungguh, rasa ini bukan duka bukan pula pedih perih. TAK! Pun aku tidak sedang meminta simpati darimu. Kau sedang berjuang mengatasi bara yang membakar tubuhmu, aku pun tahu. Usah dustai aku. Aku bukan mereka yang menari di sekitarmu. Lupakah? Kau ada di nafsku. Jiwamu di jiwaku: meringkuk kini.
Bilang padaku apa yang tak kau mengerti dari kalimat, "kau cinta dalam nafasku?"

Ah, aku bahkan tak sanggup menolak rasa itu puan.
Pada malam sebelum malam ini. Entah kemarin atau kemarin lusa. Kaupun tak menyangkal, kita dekat. bahkan lebih dekat dari definisi dekat itu sendiri. Dan kau tahu, malam ini; namamu bukan lagi tentang rindu yang menderu. Kini bertutur tentang gerak jiwa yang hanyut dalam pusaran roda waktu, hingga sekat ruang tak mampu memenjarakan rasa.

ya, bahkan sekat ruang tak mampu memenjarakan, kita.

kekasihku, jawab aku :
Jika pada kegelapan jiwa 'tlah bersinar kerlip cahaya bintang dimana cinta menitis di setiap sudutnya yang berpendar, sedang kuncupnya merekah merah layaknya aurora yang menari di bawah rinai serbukbintang, sedang rintik bintang itu kemudian menyublim di udara seperti salju di langit basah bulan desember, maka katakan padaku puan;
cinta seperti itu adakah cara untuk mendustakannya?

: adakah? TAK ADA.

Maret, 2011

Maka Sesat Kau dalam Labirinku [Elegi Labirin Cinta]

Malam ini utusanku akan datang menjemputmu dengan sembilan pasang kuda putih pilihan. Ikutilah ia hingga ke gerbang hening saat jingga mega bergelayutan manja di sudut barat langit senja. Peraduanmu pun menjadi savana rindu yang bertahtakan kilau lazuardi ungu laksana embun pagi yang bersinar dibelai mentari. Usah malu, kenakan saja kimono dan tiara putih itu lalu sematkan mahkota cinta di dada kirimu yang kini mulai bermerah muda.

Setibamu di sini, kusambut kau dengan dekap hangat sayap-sayapku. Pun tegas kubisikkan padamu: Selamat datang di bumi suci derita dan nestapa. Pedih dan perihnya akan membersihkan serta mengikis noda nafsu rendah kemanusiaan di sekujurmu. Lalu mengangkat jiwamu yang telah tersucikan itu hingga lebur dalam cahaya. Menjadi satu dengan semesta.

Dan ketahuilah sayang, mulai detik ini kusebut kau kekasih. Hidupmu tak akan pernah sama lagi. Musnah sudah jalan kembali. Terjebak kau dalam labirinku yang tidak memiliki pintu. Hanya ada satu jendela yang sesekali terbuka untuk melihat dunia luar. Kekasihku, tangis dan tawamu kini jadi milikku.

2010 - 2011
Bait Rindu Lelaki Sepi
ZAIN AL AHMAD

Apimu Tak Cukup Panas Lagi Untukku

siangku menjalang pada garang mata yang menatap nyalang. hei binal, hendak kemana lagi kau melangkah. ribu kata 'tlah tertatah. menjadi pepatah sunyi di lembah sepi. bermaksud buatku patah? ah, bahkan desahku tak lagi terusik. segala rayu menjadi abu. jadi debu. riuh suara-suara enggan kudengar, sebab jiwa telah memainkan lagunya sendiri. lalu untuk apa kau membawa rebana? ritme yang kau tabuh tak sanggup mengikuti liar tempo yang kupacu. ya. baiknya kau buang saja harap semu untuk mengikuti. menujuku terjal dan berliku. sudah. usah lagi kau nyalakan api. bara itu telah lama padam. sedang apimu tak cukup panas lagi untukku.

2011
Bait Rindu Lelaki Sepi
ZAIN AL AHMAD

Harusnya Puisi Tidak Sedingin Ini

Pukul dua dini hari, rembulan berangsur padam. Di luar angin berhenti sedang malam lembab dindingnya. Dari sebalik kaca buram petak dua kali tiga meter, aku menatap wajah pasi yang sayu parasnya. Tiada senyum di matanya. Mata itu, bisu.

"Matamu, mata puisi.." Begitu sapaku. Tapi harusnya puisi tidak sedingin ini. Barangkali rindu sudah beku. Mungkin percik api di sudut pedangnya telah menjelma salju.

Belum sempat aku menggengam tanganmu, kau berpaling. Sembunyi di sebalik gelap. Pupus tanpa bayang. Hilang. Sedang wajah pasi bermata bisu itu: aku.

Ah.. Harusnya puisi tidak sedingin ini.

2011
Bait Rindu Lelaki Sepi
ZAIN AL AHMAD

Maka Dengan Ini Aku Mencintaimu

Senja tadi seperti kemarin. Debur ombak berlomba mencipta buih menuju pantai. Kau rebah di dekapku sedang degup jantung di dada kiri berdetak ikuti irama. Ada gurat senyum awan di bibirmu. Tanpa kata. Cuma mata yang bicara. Pada temaram sorot pandang, jelas kutangkap binar cahaya. Matamu: bintang, bertaburan di setiap sudut langitku. Selayak mahkota dewi yang bertahta do'a para dewa: mantra asa yang diucapkan bumi kepada matahari setiap pagi dan petang. Menjadi pedang, merobek segala angkuh selimut jiwa. Hingga telanjang segenap rasa yang ada.

Kau tahu, atas namamu: altar puja tak pernah sunyi. Aroma dupa semerbak di udara, menyatu dengan harum kayu tubuhmu. Peluhmu? Bunga: mewangi di atas batu abadi. Seperti wangi hujan di malam hari, jatuh tanpa ragu di telaga hati.

Demi segala yang kukasihi, sesuatu telah terjadi di sini. Sejak mengenalmu pertama kali. Tercipta riuh dalam sepi di istana bidadari. Istana yang senantiasa kukunjungi dengan kendara fajar saat malam hampir usai. Aku mencarimu di sana. Pun desahku, memanggil namamu.

Lalu bagaimana mungkin aku melupa? Jika kecupmu enggan hilang jejaknya. Resap melampaui sekat angan. Menjelma kenang yang tak berkesudahan. Kau telah menjadi bagian hidupku. "Pun aku.." katamu. Duh.. Kokoh jiwamu mengusir ragu. Syahdu kasihmu membasuh luka. "Usah ada pilu, walau rindu membiru.." harapku.

Dan dengarlah kini puan, sebaris kata yang kubisikkan pada angin malam ini. Kata yang tak sengaja sampai pada indera purnama. Kata yang membuatnya malu, lalu sembunyi di sebalik awan. Sajak jiwaku yang merindu jiwamu, sedang kata itu adalah abadi.

Sebab kau agung di mataku
: maka dengan ini, aku mencintaimu.

2011
Bait Rindu Lelaki Sepi
ZAIN AL AHMAD

Sebab Hidup Itu Indah

Pada malam kutatah aksara satu-satu, meski tertatih. Berkas kenang berlarian di kepala: anak-anak waktu yang lelah diterpa zaman, sedang kala tak memberi masa untuk jeda. Terus menggilas segala ada hingga tiada lalu mengada kembali. Pagi tiba, senyum mentari nampak malu-malu. Ada pelangi di antara awan, padahal fajar tidak mengirim hujan. Barangkali pagi sedang berbaik hati, susah payah meretas embun hingga berwarna. Tapi ada mendung membias di utara. Ah.. Sudahlah. Tidak ada yang sempurna bukan? Maka aku tak sabar menanti: ada apa di langitku siang nanti, dan malam bila ia datang lagi. Ya. Hidup ini indah. Maka nikmat mana yang akan kau dustakan, Saudara?

2011
Bait Rindu Lelaki Sepi
ZAIN AL AHMAD

Bait Rindu Lelaki Sepi [2]

bulan dan bintang sembunyi di sebalik awan
barangkali akan hujan
langit menggelung hitam, kelam
sesekali kilat memecah gelap di utara
hadir sedikit terang di punggung kembara
walau tak mampu mengusir lembab di udara
menjelma jelaga pada jiwa yang gelisah
sarat kesah, resah
ah, desah nafas semakin berat
ada segumpal rasa yang tersumbat
namun seketika hilang setelah tiba angin barat
: berbisik di helai dedaun bambu
mendesau merdu, syahdu
gerisik menyebut sebaris nama
sebait pesan terdengar lirih di sela suara-suara
sebagai puisi tempat sajak bermuara
padahal rindu hampir saja berubah pilu
berangsur layu, di bening mata sayu
lalu mekar kembali, merekah di hati
luluh di lekuk kasihmu yang kunanti

2011
ZAIN AL AHMAD

Poliandri

Ada yang menghamili rembulan!
: pasti perbuatan bintang, tak ragu lagi.
Tapi yang mana?

2011
ZAIN AL AHMAD